SAHABAT / PENDAMPING SEJATI

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH

 

Ahklak  al  Kharimah

SAHABAT / PENDAMPING SEJATI

 

Hakekat Sahabat/ Pendamping Sejati , Makna dan Manfaatnya.

Oleh : Moch. Tohir

 

Temanmu / pendampingmu akan menggambarkan siapa kamu dan level keimananmu. Maka pilihlah teman / pendamping secara bijak.

 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلْاَ خِلَّآءُ يَوْمَئِذٍۢ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ اِلَّا الْمُتَّقِيْنَ ۗ

"Teman-teman karib pada hari itu saling bermusuhan satu sama lain, kecuali mereka yang bertakwa."

Zukhruf 43: Ayat 67))

 

Seseorang yang dapat menunjukkan di mana letak kesalahanmu, itulah sahabatmu yang sesungguhnya. Sedangkan orang-orang yang menyebar omong kosong dengan selalu memujimu, mereka sebenarnya adalah para algojo yang akan membinasakanmu.”

 

Pengertian.

Kata “sahabat” diambil dari akar kata bahasa Arab “sahiba” memiliki arti “menyertai”.

Bahkan hubungan persahabatan bukan hanya sekedar menyertai, namun ikut andil dalam membentuk kebaikan sesama, menasihati jika ada yang salah.

Kehadiran sahabat / pendamping hendaknya membawa kita lebih dekat dengan Sang Pencipta, bukan malah sebaliknya.

Manusia memang diciptakan sebagai makhluk sosial. Artinya, manusia akan selalu membutuhkan manusia lain di dalam hidupnya, Islam pun tak memungkiri hal ini.

Sebagai makhluk sosial ia membutuhkan sebuah kelompok –dalam bentuk yang minimal (keluarga / suami istri) yang membutuhkan keberadaan, dan dalam bentuk-bentuk di mana ia dapat bergantung padanya.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak dapat hidup dengan sendirinya. 

 

Manusia membutuhkan kehidupan dalam kehidupan. 

Semua itu adalah dalam rangka saling memberi dan saling mengambil manfaat. 

Orang kaya tidak dapat hidup tanpa orang miskin yang menjadi pembantunya, pegawainya, sopirnya, dan seterusnya.

Demikian pula orang kaya tidak dapat hidup tanpa orang kaya yang bereksperimen dan mengupahnya.

Demikianlah seterusnya. 

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَهُمْ يَقْسِمُوْنَ رَحْمَتَ رَبِّكَ ۗ نَحْنُ قَسَمْنَا بَيْنَهُمْ مَّعِيْشَتَهُمْ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا وَرَفَعْنَا بَعْضَهُمْ فَوْقَ بَعْضٍ دَرَجٰتٍ لِّيَـتَّخِذَ بَعْضُهُمْ بَعْضًا سُخْرِيًّا ۗ وَرَحْمَتُ رَبِّكَ خَيْرٌ مِّمَّا يَجْمَعُوْنَ

Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Rabbmu? Kami telah menentukan antara penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian dari sebagian yang lain, agar sebagian lain dapat sebagian yang lain. Dan rahmat Rabbmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.”

(Az-Zukhruf: 32).

 

Memiliki teman /pendamping sejati adalah sebuah anugerah.

Ini karena kehadiran teman / pendamping bisa membuat kita terhindar dari rasa kesepian di dunia.

Seorang teman /   pendamping sejati akan mendukung kita dalam suka dan duka dalam hidup kita, dan itu adalah salah satu anugerah terbesar dalam hidup.

Nabi Muhammad (SAW) memperingatkan kita untuk memilih pendamping atau  teman atau sahabat kita dengan hati-hati.

Persahabatan yang baik adalah persahabatan dengan orang shaleh / shaleha karena Sampai ke Surga Selamanya.

Sungguh bersahabat / bersuami / beristeri dengan orang-orang yang saleh / saleha adalah nikmat yang sangat besar. Maka dari itu, sudah sepantasnya kita memahami hadits tentang sahabat berikut ini. 

Umar bin Khattab berkata,

ما أعطي العبد بعد الإسلام نعمة خيراً من أخ صالح فإذا وجد أحدكم وداً من أخيه فليتمسك به

“Tidaklah seseorang diberikan kenikmatan setelah Islam, yang lebih baik daripada kenikmatan memiliki saudara (semuslim) yang saleh. Apabila engkau dapati salah seorang sahabat yang saleh maka pegang lah erat-erat.” [Quutul Qulub 2/17]

Sangat banyak keuntungan memiliki sahabat / suami / istri yang saleh / saleha diantaranya:

Sahabat / suami / istri yang saleh / saleha akan selalu membenarkan dan menasehati kita apabila salah. Inilah sahabat / suami / istri yang sesungguhnya, bukan hanya sahabat / suami/ istri saat bersenang-senang saja atau sahabat / suami/istri yang memuji karena basa-basi saja.

Sebuah ungkapan arab berbunyi:

ﺻﺪﻳﻘﻚ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ ﻻ ﻣﻦ ﺻﺪﻗﻚ

“Shadiqaka man shadaqaka laa man shaddaqaka”

“Sahabat sejati-mu adalah yang senantiasa jujur (kalau salah diingatkan), bukan yang senantiasa membenarkanmu”

Sahabat yang saleh juga akan selalu mendoakan shahabatnya karena apabila ia mendoakan sahabatnya, sedangkan sahabatnya tidak mengetaui, maka malaikat juga meng-amin-kan doa tersebut sambil mendoakan bagi yang berdoa tadi, artinya orang yang mendoakan juga mendapatkan apa yang ia doakan kepada saudaranya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

دَعْوَةُ الْمَرْءِ الْمُسْلِمِ لأَخِيهِ بِظَهْرِ الْغَيْبِ مُسْتَجَابَةٌ عِنْدَ رَأْسِهِ مَلَكٌ مُوَكَّلٌ كُلَّمَا دَعَا لأَخِيهِ بِخَيْرٍ قَالَ الْمَلَكُ الْمُوَكَّلُ بِهِ آمِينَ وَلَكَ بِمِثْلٍ

“Sesungguhnya doa seorang muslim kepada saudaranya di saat saudaranya tidak mengetahuinya adalah doa yang mustajab (terkabulkan). Di sisi orang yang akan mendoakan saudaranya ini ada malaikat yang bertugas mengaminkan doanya. Tatkala dia mendoakan saudaranya dengan kebaikan, malaikat tersebut akan berkata: Aamiin. Engkau akan mendapatkan semisal dengan saudaramu tadi.” (HR. Muslim, no. 2733)

Sifat seseorang dan kesalehan itu “menular”, dengan berkumpul bersama orang saleh, maka kita juga akan menjadi saleh dengan izin Allah.

Perhatikan hadits berikut:

عَنْ أَبِي مُوسَى رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “مَثَلُ الجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ، كَحَامِلِ المِسْكِ وَنَافِخِ الكِيرِ، فَحَامِلُ المِسْكِ: إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً، وَنَافِخُ الكِيرِ: إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَةً “

“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim]

Persahabatan dengan orang yang saleh akan berlanjut sampai surga dan akan kekal selamanya.

Tentu ini kenikmatan yang sangat besar, karena antara sahabat /suami/istri   pasti tidak ingin berpisah dengan sahabat lainnya.

Persahabatan / suami / istri sementara di dunia kemudian dipisahkan dengan kematian begitu saja, tentu bukan akhir yang indah.

Salah satu dalil bahwa akan ada persahabatan di hari kiamat akan berlanjut bahwa orang yang saling mencintai (termasuk para sahabat) akan dikumpulkan bersama di hari kiamat.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

الْمَرْءُ مَعَ مَنْ أَحَبَّ

“Setiap orang akan dikumpulkan bersama orang yang ia cintai.’” (HR. Bukhari, no. 6170; Muslim, no. 2640)

Untuk memfasilitasi hal ini, Allah Ta’ala memberikan keutaamaan kepada seseorang untuk memberikan syafaat kepada sahabatnya yang lain, agar mereka bisa sama-sama masuk surga dan berkumpul kembali.

Hasan Al- Bashri berkata,

استكثروا من الأصدقاء المؤمنين فإن لهم شفاعة يوم القيامة

”Perbanyaklah berteman dengan orang-orang yang beriman. Karena mereka memiliki syafaat pada hari klamat.” (Ma’alimut Tanzil 4/268)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda tentang syafaat antara sahabat di hari kiamat,

حتى إذا خلص المؤمنون من النار، فوالذي نفسي بيده، ما منكم من أحد بأشد مناشدة لله في استقصاء الحق من المؤمنين لله يوم القيامة لإخوانهم الذين في النار، يقولون: ربنا كانوا يصومون معنا ويصلون ويحجون، فيقال لهم: أخرجوا من عرفتم، فتحرم صورهم على النار، فيخرجون خلقا كثيرا قد أخذت النار إلى نصف ساقيه، وإلى ركبتيه، ثم يقولون: ربنا ما بقي فيها أحد ممن أمرتنا به، فيقول: ارجعوا فمن وجدتم في قلبه مثقال دينار من خير فأخرجوه، فيخرجون خلقا كثيرا، ثم يقولون: ربنا لم نذر فيها أحدا ممن أمرتنا…

“Setelah orang-orang mukmin itu dibebaskan dari neraka, demi Allah, Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh kalian begitu gigih dalam memohon kepada Allah untuk memperjuangkan hak untuk saudara-saudaranya yang berada di dalam neraka pada hari kiamat.

Mereka memohon: Wahai Tuhan kami, mereka itu (yang tinggal di neraka) pernah berpuasa bersama kami, shalat, dan juga haji.

Dijawab: ”Keluarkan (dari neraka) orang-orang yang kalian kenal.” Hingga wajah mereka diharamkan untuk dibakar oleh api neraka.

Para mukminin inipun MENGELUARKAN BANYAK SAUDARANYA yang telah dibakar di neraka, ada yang dibakar sampai betisnya dan ada yang sampai lututnya.

 

Kemudian orang mukmin itu lapor kepada Allah, ”Ya Tuhan kami, orang yang Engkau perintahkan untuk dientaskan dari neraka, sudah tidak tersisa.”

Allah berfirman, ”Kembali lagi, keluarkanlah yang masih memiliki iman seberat dinar.”

Maka dikeluarkanlah orang mukmin banyak sekali yang disiksa di neraka. Kemudian mereka melapor, ”Wahai Tuhan kami, kami tidak meninggalkan seorangpun orang yang Engkau perintahkan untuk dientas…” (HR. Muslim no. 183).

 

 

 

Sumber :

1 .dr. Raehanul Bahraen, M.Sc, Sp.PK - Alumni Ma'had Al Ilmi Yogyakarta, S1 Kedokteran Umum UGM, dosen di Universitas Mataram, kontributor majalah "Kesehatan Muslim" -17 Agustus 2021

2.http://palembang.tribunnews.com/2018/07/27/esensi-manusia-sebagai-makhluk-so