PESAN MAKRIFAT NABI KHIDIR BAGIAN 2

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH

 

Ahklak  al  Kharimah

PESAN MAKRIFAT NABI KHIDIR

KEPADA NABI  MUSA AS

 

Bagian Kedua.

 

Ma’rifatullah Adalah Puncak Segala Ilmu , asas ilmu hamba tentang kebahagiaan, kesempurnaan dan kemaslahatan dunia akhirat.

Oleh : Moch. Tohir

 

Selain menganugerahkan manusia kemampuan untuk merasa dan membutuhkan makan, minum serta kebutuhan biologis lainnya, manusia juga dibekali perasaan ingin tahu.

Keingintahuan manusia itu menghantarkan mereka kepada sejumlah penemuan hingga lahirlah sebuah ilmu; seperangkat aturan yang telah disusun secara sistematis untuk mengetahui sesuatu.

Untuk mengetahui sesuatu itulah Allah Swt membekali manusia akal untuk berpikir.

Dalam banyak ayat Al-Quran, Allah Swt menggunakan kalimat pertanyaan yang diserukan kepada hamba-hamba-Nya untuk mempertegas apakah proses penciptaan langit dan bumi atau yang lebih rumit dari itu yakni penciptaan manusia dapat membuat mereka berpikir dan memperhatikan seperti dalam surah QS. Az-Zariyat 51: Ayat 20 - 22

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman: 

"Dan di bumi terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang yakin,"

"dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?"

"Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu."

+++++

 

Kemampuan berpikir pada manusia memang berbeda-beda, namun sumbernya tetap Allah Swt.

Pada perjalanan hidupnya, ada sebagian orang yang bersyukur diberi ilmu yang banyak sehingga dengan ilmu itu ia dapat menyelamatkan manusia lain dari ketidaktahuan, kebodohan dan kesesatan serta ia sandarkan apa yang Dia tahu karena Allah.

Namun ada pula manusia yang khilaf—tidak menyandarkan apa yang ia ketahui karena Allah—bahwa sedikit ilmu yang ia ketahui hanyalah seizin Allah, sama sekali ia tidak pernah bisa mengetahui sesuatu jika saja Allah tidak memberinya ilmu.

+++++

 

Kemampuan golongan kedua, ada pelajaran berharga yang dapat kita ambil dari kisah salah seorang Nabi Ulul Azmi (Nabi Musa as) dan Nabi Khidir yang Allah urai begitu runut pada

surah Al-Kahfi ayat 60 hingga 82.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

"Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada pembantunya, Aku tidak akan berhenti (berjalan) sebelum sampai ke pertemuan dua laut; atau aku akan berjalan (terus sampai) bertahun-tahun."

"Maka ketika mereka sampai ke pertemuan dua laut itu, mereka lupa ikannya, lalu (ikan) itu melompat mengambil jalannya ke laut itu."

"Maka ketika mereka telah melewati (tempat itu), Musa berkata kepada pembantunya, Bawalah kemari makanan kita; sungguh kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini."

"Dia (pembantunya) menjawab, Tahukah engkau ketika kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak ada yang membuat aku lupa untuk mengingatnya kecuali setan, dan (ikan) itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali."

"Dia (Musa) berkata, Itulah (tempat) yang kita cari. Lalu keduanya kembali, mengikuti jejak mereka semula,"

"lalu mereka berdua bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan rahmat kepadanya dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan ilmu kepadanya dari sisi Kami."

+++++

 

"Musa berkata kepadanya, Bolehkah aku mengikutimu agar engkau mengajarkan kepadaku (ilmu yang benar) yang telah diajarkan kepadamu (untuk menjadi) petunjuk?"

"Dia menjawab, Sungguh, engkau tidak akan sanggup sabar bersamaku."

"Dan bagaimana engkau akan dapat bersabar atas sesuatu, sedang engkau belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?"

"Dia (Musa) berkata, Insya Allah akan engkau dapati aku orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam urusan apa pun."

"Dia berkata, Jika engkau mengikutiku, maka janganlah engkau menanyakan kepadaku tentang sesuatu apa pun, sampai aku menerangkannya kepadamu."

"Maka berjalanlah keduanya, hingga ketika keduanya menaiki perahu lalu dia melubanginya. Dia (Musa) berkata, Mengapa engkau melubangi perahu itu, apakah untuk menenggelamkan penumpangnya? Sungguh, engkau telah berbuat sesuatu kesalahan yang besar."

"Dia berkata, Bukankah sudah ku katakan, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?"

"Dia (Musa) berkata, Janganlah engkau menghukum aku karena kelupaanku dan janganlah engkau membebani aku dengan sesuatu kesulitan dalam urusanku."

"Maka berjalanlah keduanya; hingga ketika keduanya berjumpa dengan seorang anak muda, maka dia membunuhnya. Dia (Musa) berkata, Mengapa engkau bunuh jiwa yang bersih, bukan karena dia membunuh orang lain? Sungguh, engkau telah melakukan sesuatu yang sangat mungkar."

"Dia berkata, Bukankah sudah kukatakan kepadamu, bahwa engkau tidak akan mampu sabar bersamaku?"

"Dia (Musa) berkata, Jika aku bertanya kepadamu tentang sesuatu setelah ini, maka jangan lagi engkau memperbolehkan aku menyertaimu, sesungguhnya engkau sudah cukup (bersabar) menerima alasan dariku."

"Maka keduanya berjalan; hingga ketika keduanya sampai kepada penduduk suatu negeri, mereka berdua meminta dijamu oleh penduduknya, tetapi mereka (penduduk negeri itu) tidak mau menjamu mereka, kemudian keduanya mendapatkan dinding rumah yang hampir roboh (di negeri itu), lalu dia menegakkannya. Dia (Musa) berkata, Jika engkau mau, niscaya engkau dapat meminta imbalan untuk itu."

"Dia berkata, Inilah perpisahan antara aku dengan engkau; aku akan memberikan penjelasan kepadamu atas perbuatan yang engkau tidak mampu sabar terhadapnya."

"Adapun perahu itu adalah milik orang miskin yang bekerja di laut; aku bermaksud merusaknya, karena di hadapan mereka ada seorang raja yang akan merampas setiap perahu."

"Dan adapun anak muda (kafir) itu, kedua orang tuanya mukmin, dan kami khawatir kalau dia akan memaksa kedua orang tuanya kepada kesesatan dan kekafiran."

"Kemudian kami menghendaki, sekiranya Tuhan mereka menggantinya dengan (seorang anak lain) yang lebih baik kesuciannya daripada (anak) itu dan lebih sayang (kepada ibu bapaknya)."

"Dan adapun dinding rumah itu adalah milik dua anak yatim di kota itu, yang di bawahnya tersimpan harta bagi mereka berdua, dan ayahnya seorang yang saleh. Maka Tuhanmu menghendaki agar keduanya sampai dewasa dan keduanya mengeluarkan simpanannya itu sebagai rahmat dari Tuhanmu. Apa yang kuperbuat bukan menurut kemauanku sendiri. Itulah keterangan perbuatan-perbuatan yang engkau tidak sabar terhadapnya."

+++++

 

Sudah kita ketahui bersama bahwa Nabi Musa as Allah berikan banyak keistimewaan salah satunya adalah dapat berbicara oleh Allah secara langsung di lembah suci Thuwa saat ia dan keluarganya melarikan diri dari kekejaman Fir’aun di Mesir.

Namun, meski Nabi Musa as diberikan kelebihan tersebut, ia diminta Allah untuk belajar kepada Nabi Khidir; hal ini menunjukkan bahwa kerendahan hati lebih baik daripada takabbur, demikian penjelasan dalam tafsir Al-Maraghi.

Nabi Musa as diperintahkan untuk belajar kepada Nabi Khidir karena ia tidak mengembalikan ilmu yang ia ketahui kepada pemiliknya; Allah Swt.

Wallahu  Alam

 

Bersambung.

 

Sumber :

Khazanah - Indonesia -

Ma’rifatullah, Puncak Segala Ilmu

-Ahad , 07 Feb 2016, 06:03 WIB

-Wordpress.com.

REPUBLIKA.CO.ID