BELAJAR DARI S E M U T

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH

 

Kajian Islam

BELAJAR  DARI

 "GURU BIJAK"

     SI KECIL

  S E  M  U  T 

 

Oleh : Moch. Tohir

Allah menurunkan dua bentuk petunjuk, yakni kitab Allah (Alquran) yang diistilahkan dengan kitab al-Munazzalah dan “kitab alam” yang diistilahkan dengan kitab al-majbûlah. 

Siapa saja yang mengikuti petunjuk kedua kitab ini, insyaallah akan selamat hidupnya dunia dan akhirat.

+++++

 

Perintah Menjaga  Keseimbangan Alam dan Jangan Marah Berlebihan.

Allah tidak menyukai tindakan merusak sesuatu, termasuk pepohonan dan hewan yang hidup. Manusia diarahkan untuk menjaga berbagai ciptaan Allah yang ada untuk keseimbangan alam.

Setelah mati, manusia akan ditanya tentang burung kecil yang dibunuhnya tanpa alasan yang benar. Siksa akan datang kepadanya akibat kerusakan yang telah diperbuat.

Imam Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah bersabda :

" Seorang nabi singgah di bawah pohon. Dia digigit oleh seekor semut. Dia memerintahkan agar barang bawaannya dijauhkan dari bawah pohon itu. Lalu, dia memerintahkan agar rumah semut itu dibakar.

Allah mewahyukan kepadanya, "Mengapa tidak hanya satu ekor semut?"

Mungkin, kedatangan sang nabi dengan temannya mengganggu para semut. Biasanya, semut melawan orang yang mengganggu dan merusak ketenangannya. Seekor semut datang dan menggigit nabi itu.

 

Meski mendapatkan kekhasan dari Allah, nabi tetaplah manusia. Dia tak lepas dari kekhilafan. Nabi tersebut emosi.

Dia melakukan tindakan spontan yang membuatnya menyesal. Sang nabi marah kepada semut beserta teman- temannya.

Muncullah keinginan untuk menghukum seluruh semut.

Dia memerintahkan para pengikutnya agar menjauhkan barang dari bawah pohon itu.

Kemudian, dia menyulut api untuk membakar sarang semut.

Maka, semut yang sedang berjalan terbakar dan panas api itu sampai kepada semut-semut yang berada di lubangnya di dalam tanah.

 

Seharusnya, yang dihukum hanyalah semut yang menggigit rombongan tadi.

Rasulullah mengajarkan bahwa berhak melawan orang atau hewan yang menyerang manusia, walaupun hewan itu jinak. Semut ini menyerang dan menggigit.

Wajar saja hewan tadi mendapat hukuman.

Namun, menghukum semua semut yang ada di sarang itu dan membakar mereka dengan api bukanlah keadilan.

Semut adalah ciptaan Allah. Mereka bertasbih dan menyucikan Allah seperti hewan-hewan lain.

Seperti mahluk ciptaan Allah lainnya, semut juga senantiasa bertasbih dengan memuji Allah dan menyucikanNya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

تُسَبِّحُ لَهُ السَّمٰوٰتُ السَّبْعُ وَا لْاَ رْضُ وَمَنْ فِيْهِنَّ ۗ وَاِ نْ مِّنْ شَيْءٍ اِلَّا يُسَبِّحُ بِحَمْدِهٖ وَلٰـكِنْ لَّا تَفْقَهُوْنَ تَسْبِيْحَهُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ حَلِيْمًا غَفُوْرًا

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan tidak ada sesuatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu tidak mengerti tasbih mereka. Sungguh, Dia Maha Penyantun, Maha Pengampun."

(QS. Al-Isra' 17: Ayat 44)

Manusia tidak boleh menyerangnya, kecuali jika mereka menyakitinya.

Oleh karena itu, Allah menyalahkan nabi itu dan mencelanya karena dia menghukum melampaui batas.

Dia menghukum semut yang tidak bersalah karena kesalahan seekor semut. Dia membunuh sebuah umat yang bertasbih kepada Allah.

+++++

 

Etos Kerja - Solidaritas Yang Tinggi - Super Hati Hati .

Prof Quraish  dalam Tafsir al-Mishbah menerangkan  bahwa semut merupakan hewan yang hidup bermasyarakat dan berkelompok. Hewan ini mempunyai etos kerja yang tinggi dan sikap kehati-hatian luar biasa.

Keunikan lain yang dimiliki oleh semut adalah menguburkan anggotanya yang mati.

Itu merupakan keistimewaan semut yang terungkap melalui penelitian ilmuwan serta semut juga merupakan hewan yang memiliki rasa sosial dan solidaritas yang tinggi.

Mereka tidak egois dan tidak mementingkan diri sendiri.

Semut menghimpun makanan sedikit demi sedikit tanpa henti-hentinya. Konon, binatang kecil ini dapat menghimpun makanan untuk bertahun-tahun sedangkan usianya tidak lebih dari satu tahun.

Kelobaannya sedemikian besar sehingga ia berusaha -- dan seringkali berhasil -- memikul sesuatu yang lebih besar dari badannya, meskipun sesuatu tersebut tidak berguna baginya.

+++++

 

Beberapa Hikmah Yang Dapat Dipetik Dari Semut .

Didasarkan pada kisah antara Nabi Sulaiman AS dan semut yang termaktub dalam surat An-Naml.

 

Setidaknya ada lima pelajaran dari semut yaitu sebagai berikut :

Pertama  ,  satu orang dapat kembali menghidupkan suatu bangsa. Maksudnya adalah, semut mengajarkan bahwa seseorang tidak boleh terlepas dari usaha pribadinya.

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

حَتّٰۤى اِذَاۤ اَتَوْا عَلٰى وَا دِ النَّمْلِ ۙ قَا لَتْ نَمْلَةٌ يّٰۤاَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْ ۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗ ۙ وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ

"Hingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut, Wahai semut-semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari."

(QS. An-Naml 27: Ayat 18)

Semut mengajarkan tentang arti upaya yang dimulai dari diri sendiri dan jangan meremehkan usaha yang hanya dilakukan satu orang untuk menyelesaikan masalah besar. Setiap individu memiliki kemampuan untuk melakukan banyak hal.

 

Kedua ,  mengutamakan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi.

Inilah yang dilakukan semut saat menghadapi masalah. Misalnya, kaki dan langkah manusia tentu menjadi ancaman berbahaya bagi semut karena bisa mati terinjak.

Namun dalam kondisi itu semut tidak melarikan diri. Semut-semut justru berdiri menyerukan bangsanya untuk mencoba saling menyelamatkan, mengutamakan kepentingan bangsanya atas kepentingan dirinya sendiri.

Ketiga , menikmati proses bukan hasil.

Semut telah memberi contoh tentang nikmatnya berfokus pada proses, bukan pada hasil. Mereka punya energi atau kekuatan untuk mengerahkan segala upaya, maka kekuatan ini sebetulnya merupakan anugerah yang harusnya dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Bila merasa tidak puas pada hasilnya, maka ada kekurangan pada proses ikhtiar.  

Dalam hadits panjang riwayat Bukhari, Nabi Muhammad SAW bersabda: "Telah ditampakkan kepadaku umat-umat, maka aku melihat seorang Nabi lewat bersama satu orang, seorang Nabi bersama dua orang saja, seorang Nabi bersama sekelompok orang dan seorang Nabi tanpa seorang pun bersamanya.

Lalu tiba-tiba ditampakkan kepadaku kumpulan manusia yang banyak memenuhi ufuk, aku berharap mereka adalah ummatku, namun dikatakan padaku; 'Ini adalah Musa dan kaumnya, lalu di katakana pula kepadaku; "Tapi lihatlah di ujung sebelah sana.' Ternyata aku melihat ada sekumpulan orang yang sangat banyak, kemudian dikatakan lagi padaku; 'Lihat juga yang sebelah sana.'

Ternyata aku juga melihat ada sekumpulan orang yang sangat banyak lagi, lalu dikatakan padaku; 'Ini adalah umatmu, dan bersama mereka ada tujuh puluh ribu orang yang akan masuk surga tanpa hisab." Setelah itu orang-orang bubar dan belum sempat ada penjelasan kepada mereka, sehingga para sahabat Nabi SAW saling membicarakan hal itu, mereka berkata; "Adapun kita dilahirkan dalam kesyirikan akan tetapi kita beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mungkin mereka adalah para anak cucu kita."

Lantas peristiwa tersebut sampai kepada Nabi SAW lalu beliau bersabda: "Mereka itu adalah orang-orang yang tidak pernah bertathayur (menganggap sial sesuatu hingga tidak jadi beramal), tidak pernah meminta untuk diruqyah dan tidak mau menggunakan Kay (pengobatan dengan besi panas), dan kepada Tuhan merekalah mereka bertawakkal."

Lalu Ukasyah bin Mihshan berdiri dan berkata; "Apakah aku termasuk di antara mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab: "Ya." Kemudian yang lainnya berdiri lalu bertanya; "Apakah aku juga termasuk di antara mereka?" Beliau menjawab: "Ukasyah telah mendahuluimu dalam hal ini." (HR Bukhari dari jalur Ibnu Abbas)

Keempat ,  memberikan solusi yang praktis.

Semut tidak sekadar mengingatkan atau mengimbau, tetapi mereka juga menawarkan solusi praktis yang membebaskan bangsanya dari kesulitan, sesuai dengan kemampuan mereka.

Kelima ,  memiliki pemikiran yang cemerlang.

Dasarnya adalah perkataan semut dalam surat An-Naml ayat 18, "...agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari."

Karena semut sangat kecil bahkan hampir tidak ada yang menoleh ke bawah untuk memperhatikan semut, maka mereka pun harus melakukan langkah antisipasi.

Menariknya, semut tahu bahwa manusia tidak memperhatikan mereka sehingga tidak menyadari bila telah menginjak semut.

Demikianlah , kalimat peringatan yang disampaikan semut kepada bangsanya merupakan pemikiran yang logis.

Wallahu Alam

 

 

 

Sumber :

1.Hikmah di Balik Larangan Membunuh Semut-

Selasa , 10 Jul 2018, 13:30 WIB-

REPUBLIKA.CO.ID,

2.Hukum Membunuh Semut -

Beranda islami | 18 November 2020 | 11:31 WIB

3. 5 Pelajaran Terpenting dari Semut untuk Manusia -

Selasa , 23 Mar 2021, 05:45 WIB

REPUBLIKA.CO.ID, 

4. M. Quraish Shihab, Lentera Hati: Kisah dan Hikmah Kehidupan, halaman 230-232.