MERAWAT KUPU-KUPU SURGA

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH

 

Ahklak  Al  Kharimah

MERAWAT KUPU-KUPU  SURGA

 

Mendidik Anak Menurut al Qur'an

Oleh : Moch. Tohir

 

Anak merupakan titipan Allah yang kelak akan hidup mandiri dan lepas dari orang tuanya. Karenanya ia harus dibekali dengan keimanan yang kuat dan aturan yang tegas dalam menjalani kehidupan

( Erna Sari Agusta).

 

Tujuh Hak Anak dalam Perspektif Islam yang Wajib Orang Tua Penuhi  (Asri Ediyati )

Dalam agama Islam, anak begitu menjadi perhatian besar.

Anak juga berkali-kali disebutkan dalam Alquran dan hadits.

Islam memandang bahwa anak memiliki kedudukan atau fungsi yang sangat penting, baik untuk orang tuanya sendiri, masyarakat maupun bangsa secara keseluruhan.

Misalnya, dalam (QS. Maryam: 4-6) tentang kegelisahan Nabi Zakaria.

Ia mengadu pada Allah SWT:

Ya Tuhanku, sesungguhnya tulangku telah lemah dan kepalaku telah dipenuhi uban, dan aku belum pernah kecewa dalam berdo'a kepada Engkau, ya Tuhanku.

Dan sesungguhnya aku khawatir terhadap mawaliku sepeninggalku, sedang istriku adalah seorang yang mandul, maka anugerahilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang akan mewarisi aku dan mewarisi sebagian keluarga Ya'qub; dan jadikanlah ia, ya Tuhanku, seorang yang diridhai.

 

Menurut HM. Budiyanto dari Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, dari doa Zakaria ini tergambar dengan tegas bahwa salah satu fungsi dan kedudukan anak bagi orang tuanya adalah sebagai pewaris.

Bukan hanya pewaris dalam bidang harta benda saja, tetapi yang lebih penting adalah juga sebagai pewaris dalam perjuangan, Bunda

"Zakaria sangat gelisah bahwa sepeninggal dia kelak, tidak didapati orang yang bisa dipercaya untuk melanjutkan misi perjuangannya.

Untuk itulah tiada henti-hentinya, siang maupun malam, pagi maupun petang, Zakaria terus berdo'a untuk dikaruniai anak," tulis Budiyanto dalam makalahnya di laman resmi Kemenag RI.

 

Sementara itu, dalam sebuah hadits riwayat Bukhari-Muslim,

Rasulullah SAW, bersabda: 

"Anak-anak itu bagaikan kupu-kupu surga".

Jadi, kita bisa melihat bahwa dalam Islam, betapa pentingnya orang tua untuk memenuhi hak anak.

Apa saja hak anak dalam Islam?

Berikut 7 hak anak dalam perspektif Islam:

 

1. Hak untuk hidup dan tumbuh berkembang

Islam mengajarkan bahwa menjaga kelangsungan hidup dan tumbuh berkembangnya anak itu merupakan keharusan. Sementara meremehkan atau mengendorkan pelaksanaan prinsip-prinsip dasar tersebut dianggap sebagai suatu dosa besar.

Hal ini dapat dibaca dalam ayat Alquran :

"Dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.

Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka."

(QS, Al-An'am: 151)

2. Hak mendapatkan perlindungan dan penjagaan dari siksa api neraka

Menurut Budiyanto, meskipun Allah telah melengkapi manusia dengan kecenderungan alamiyah untuk menghindar dari bahaya yang mengancamnya, ternyata Allah masih juga secara tegas mengingatkan kepada setiap orang tua untuk terus menerus melindungi dan menjaga diri dan keluarganya, khususnya anak anak dan istrinya, dari siksa api neraka.

Allah berfirman: 

"Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari siksa api neraka"

(QS At-Tahrim: 6).

 

3. Hak mendapatkan nafkah dan kesejahteraan

Orang tua yang mampu berkewajiban memberikan nafkah kepada anak-anaknya sampai sang anak mempunyai kemampuan untuk menafkahi dirinya sendiri.

Artinya, anak yang belum mampu berhak mendapatkan nafkah dari orang tuanya yang mampu.

Firman yang dijadikan dasar perintah memberikan nafkah ini, antara lain adalah :

"Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan. Dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian

kepada para ibu dengan cara yang ma'ruf."

(QS Al-Baqarah: 233)

 

4. Hak mendapatkan pendidikan dan pengajaran :

QS.at-Tahrim: 6 :

Allah memerintahkan agar orang tua menjaga dan melindungi anak-anaknya dari siksa api neraka, maka berarti orang tua diwajibkan untuk melakukan pendidikan dan pengajaran terhadap anak-anaknya dengan sebaik-baiknya.

Sebab anak akan terhindar dari siksa api neraka bila ia tahu tentang perbuatan-perbuatan yang mendatangkan dosa.

 

5. Hak mendapatkan keadilan dan persamaan derajat

Islam memandang bahwa semua manusia, baik itu antara pria dan wanita ataupun antara yang lainnya, adalah memiliki derajat yang sama di sisi Allah.

Yang membedakan antara mereka adalah tingkat ketaqwaannya semata Allah berfirman :

"Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan;
dan Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.

Sesunggguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah
ialah orang yang paling taqwa dia ntara kamu.

Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."

(QS al-Hujurat: 13)

 

6. Hak mendapatkan cinta kasih

Sudah menjadi fitrahnya bila setiap orang tua mencintai anak-anaknya.

Walaupun demikian, Islam masih juga memerintahkan agar orang tua memperlihatkan perasaan cinta kasihnya itu kepada anak-anaknya.

Ya, sehingga anak betul-betul merasa bahwa orang tuanya itu mencintai dan mengasihi.

Setiap anak punya hak untuk mendapatkan dan merasakan wujud nyata dari perasaan cinta kasih orang tuanya.

 

7. Hak untuk bermain

Dalam Islam, anak berhak untuk bermain.

Rasulullah SAW pun telah memberikan contoh dalam hal ini.

Diriwayatkan, pada suatu hari Nabi memimpin sembahyang berjemaah.

Waktu itu datanglah Hasan dan Husain, cucu-cucu beliau.

Sewaktu Rasulullah sedang sujud, keduanya menaiki punggung beliau, dan Nabi memperpanjang sujud sampai kedua cucu tersebut turun dari punggung.

Setelah selesai sembahyang para sahabat bertanya kenapa beliau melakukan salah satu sujudnya lama sekali.

Nabi menjawab: "Kedua cucu saya naik ke punggung saya dan saya tidak tega menyuruh mereka turun"

 

Nasihat Urwa bin Zubair

Wahai anakku, tuntutlah ilmu dan curahkan tenaga dan segenap perhatianmu, sebab walaupun kalian kecil dalam pandangan manusia mudah-mudahan dengan ilmu pengetahuan, Allah akan menjadikan kaliyan besar serta merupakan tokoh umat.

Siapakah Urwah bin Zubair?

Dia adalah salah satu dari tujuh fuqaha Madinah, mereka merupakan ahli fiqih generasi tabi'in.

Lahir dan meninggal di kota Madinah dalam usia 69 tahun. Dia merupakan cucu Abu Bakar Ash Shiddiq dan Shofiyyah binti Abdul Mutholib.

Dari silsilah, dia mempunyai nasab yang baik.

 

Dia memiliki nasihat pada anak-anaknya:

1. Mengenai ilmu pengetahuan: "Wahai anakku, tuntutlah ilmu dan curahkanlah tenaga serta segenap perhatianmu untuknya. Sebab walaupun kalian kecil dalam pandangan manusia, mudah-mudahan dengan ilmu pengetahuan tersebut, Allah akan menjadikan kalian besar serta merupakan tokoh umat. Karena itu, ketahuilah anakku, tiada di dunia ini lebih buruk dibanding seorang tua renta yang bodoh."

 

2. Mengutamakan Allah:

 "Duhai anakku, janganlah kalian menghadiahkan sesuatu kepada Allah, yang kalian sendiri seyogianya merasa malu menghadiahkannya kepada pemimpin kalian.

Sesungguhnya, Allah itu Maha Mulia dan Maha Pemurah, karena sesungguhnya pula Dia itu lebih berhak untuk dimuliakan.

 

3. Ketegasan Sikap:

"Hai anakku, andaikata kalian melihat seseorang melakukan perbuatan baik, maka akuilah apa yang dilakukan orang itu adalah baik.

Meskipun di mata masyarakat banyak, orang tersebut berkelakuan buruk.

Sebab setiap perbuatan baik itu pasti ada rentetannya.

Begitu juga bilamana kalian menjumpai seseorang berbuat jahat, berhati-hatilah mengambil sikap, walaupun dalam pandangan orang banyak dia itu baik.

Karena setiap perbuatan buruk pasti ada rentetannya.

Jadi camkanlah, kebaikan akan menunjukkan kelanjutannya dan keburukan akan menunjukkan kelanjutannya juga."

 

4. Etika Berbicara:

"Oh anakku, saat berbicara berkata-katalah sebaik mungkin dengan wajah berhias senyum.

Anakku, telah tertulis dalam hikmah:

Jadikanlah tutur katamu selalu indah dan ketika menyampaikannya sertailah dengan wajah penuh senyuman, sebab kata-kata indah dan wajah penuh senyuman lebih disukai daripada sebuah pemberian."

 

Ilmu pengetahuan adalah bekal utama bagi seseorang dalam mengarungi kehidupan di dunia.

Sebagai khalifah di muka bumi, maka kuasailah ilmu pengetahuan semata untuk memanfaatkan, menjaga dan memakmurkan bumi.

Ilmu ini tidak bisa lepas dari ibadah, maka agungkanlah keduanya.

Karena keduanya adalah tujuan dari penciptaan dua kehidupan ( dunia dan akhirat ).

Kedudukan ilmu laksana pohon dan ibadah laksana salah satu buah.

Manfaat akan terwujud jika ada buah yang dihasilkan.

Oleh karena itu, ibadah harus dilakukan agar kemuliaan ilmu terjaga.

 

Imam Hasan al-Bashri berkata,

" Tuntutlah ilmu ini dengan tidak merusak ibadah dan kerjakanlah ibadah
dengan tidak melalaikan ilmu."

 

Memuliakan Allah, merupakan suatu perbuatan yang patuh dalam menjalankan perintah dan larangannya-Nya.

Apa yang paling berharga sebagai hamba untuk diserahkan pada Sang Pencipta, adalah sikap penghambaan yang paripurna.

 

Selalu mengingat-Nya atas kebesaran, kekuasaan dan selalu bersyukur atas nikmat-nikmat-Nya.

Hal ini sesuai dengan firman Allah :

"Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku."
(Q.S Adz Dzariyat: 56).

 

Ketegasan sikap mesti ditegakkan dengan menyadari atas konsekwensinya.

Saat ini kadangkala kita susah membedakan yang Hak dan Batil karena terlihat dalam kehidupan saat ini yang hak bisa kalah dan yang batil menjadi pemenang.

 

Dalam perintah Allah sebenarnya sudah jelas:

"Dan janganlah kamu campur adukkan yang hak dengan yang batil dan janganlah kamu
sembunyikan yang hak itu, sedang kamu mengetahui".

( QS, al-Baqarah; 42).

 

Kita mesti bisa membedakan secara benar sesuai keyakinan dan tuntunan Islam, bukan menjadi terpengaruh atas opini kebanyakan orang atau mayoritas.

"Kebenaran, itu datangnya dari Allah, karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu terhadap kebenaran Allah tersebut".

( QS. ali Imran : 60).

 

Sebaliknya kebatilan itu datangnya dari setan musuh Allah dan musuh hamba Allah yang beriman, makanya Allah melarang kita untuk mengikuti setan karena sesungguhnya setan itu musuhmu yang nyata kata Allah SWT.

( QS. al-Baqarah : 208).

 

Etika berbicara yang dinasihatkan Urwah bin Zubair pada anak-anaknya, tidak lain beliau merujuk pada Baginda Rasulullah.

 

Adapun sabdanya : " Bertutur kata yang baik adalah sedekah. " ( Diriwayatkan Bukhari dan Muslim ).

 

Rasulullah juga mengingatkan pada umatnya untuk berkata-kata yang baik saja atau diam.

Sedangkan diam adalah emas, jika banyak bicara dan tidak jelas arahnya ( tidak mencerdaskan ) berpotensi mematikan hati.

Apakah dalam kehidupan saat ini kita sudah mencontoh Rasulullah?

 

Kemajuan teknologi bisa mendorong kebaikan juga bisa mendorong seseorang berbuat ghiba, maka hati-hatilah dalam memberikan respon terhadap berita-berita yang tidak jelas sumbernya.

Beginilah Rasulullah bersikap diam tepat pada waktu memang harus diam.

 

Dan ketika harus bicara, beliau akan bicara.

Bukan diam ketika seharusnya bicara dan berbicara ketika seharusnya diam.

 

Wallahu   Alam

 

 

 

Sumber :

1.Erna Sari Agusta, S.Pd

Guru pada MTs Negeri 28 Jakarta -https://bdkjakarta.kemenag.go.id 

2. Asri Ediyati - Hai Bunda com. - 7 Hak Anak - Minggu, 26 Jul 2020 09:07 WIB

3. Nasehat Urwa bin Zubair - Detik Com. Jum'at 23  April 2021  06.30