MAKA KEMANAKAH KAMU AKAN PERGI ?

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH

 

Ahklak al Kharimah

MAKA  KEMANAKAH  KAMU

AKAN PERGI  ?

 

Pentingnya Manajemen Kalbu Untuk Menjalani Kehidupan Menurut Al Qur'an.

Oleh : Moch. Tohir.

 

Prof Nazaruddin  Umar menerangkan bahwa  Allah Swt melalui  firmanNya dalam al Qur'an Surat At-Takwir 81:26 yang sangat pendek tetapi sangat substansial kepada manusia berupa pertanyaan :

                          فَاَ يْنَ تَذْهَبُوْنَ ۗ      

"Maka ke manakah kamu akan pergi?"

Adalah suatu bentuk peringatan dari  Allah kepada manusia

bahwa :

Hidup didunia ini adalah hanya sebuah episode kecil dari suatu perjalanan yang sangat panjang menuju suatu tujuan yang harus dijawab dan selalu diingat oleh manusia yaitu :

Pulang ke- kampung akherat   , 

kembali kepangkuan Allah swt, seperti apa yang difirmankan dalam  Al Qur'an :

 

   ۗ اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ

   كَا نَ عَا قِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ 

   وَلَدَا رُ الْاٰ خِرَةِ خَيْرٌ لِّـلَّذِيْنَ اتَّقَوْا ۗ 

   اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka (yang mendustakan Rasul).

Dan sungguh, negeri akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa.

Tidakkah kamu mengerti?"

(QS. Yusuf 12: Ayat 109)

 

Didalam ayat lain Allah swt menjelaskan proses perjalanan panjang seorang manusia

dimulai dari :

   ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ

   مُضْغَةً   فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا

   فَكَسَوْنَا  الْعِظٰمَ لَحْمًا

   ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ ۗ  فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ

   اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ ۗ 

  ثُمَّ اِنَّكُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ لَمَيِّتُوْنَ ۗ 

  ثُمَّ اِنَّكُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ تُبْعَثُوْنَ

"Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.

Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (berbentuk) lain.

Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik."

Kemudian setelah itu, sungguh kamu pasti mati.

Kemudian, sungguh kamu akan dibangkitkan dari kuburmu pada hari kiamat.

(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 14  - 16)

 

Selanjutnya Allah mengingatkan melalui firmanNya bahwa tidak semua umat manusia akan selamat kembali kepada Tuhannya , kecuali orang yang beruntung  yaitu ;

         قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ 

         الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَا تِهِمْ خَا شِعُوْنَ ۙ

        وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ

        وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فَا عِلُوْنَ ۙ 

        وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ

        اِلَّا عَلٰۤى اَزْوَا جِهِمْ اَوْ مَا مَلَـكَتْ

        اَيْمَا نُهُمْ    فَاِنَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ ۚ 

        فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَآءَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ

        هُمُ الْعٰدُوْنَ ۚ 

        وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِاَ مٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَا عُوْنَ ۙ

        وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَا فِظُوْنَ ۘ 

        اُولٰٓئِكَ هُمُ الْوَا رِثُوْنَ ۙ 

        الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَ ۗ 

        هُمْ فِيْهَا   خٰلِدُوْنَ

"Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,"

"(yaitu) orang yang khusyuk dalam sholatnya,"

"dan orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tidak berguna,"

"dan orang yang menunaikan zakat,"

"dan orang yang memelihara kemaluannya,"

"kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela."

"Tetapi barang siapa mencari di balik itu (zina, dan sebagainya), maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas."

"Dan (sungguh beruntung) orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya,"

"serta orang yang memelihara sholatnya."

"Mereka itulah orang yang akan mewarisi,"

"(yakni) yang akan mewarisi (Surga) Firdaus. Mereka kekal di dalamnya."

(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 1 - 11)

 

Nah bagaimana agar manusia sampai bisa menjalankan perintah -perintah Allah dan selamat sampai tujuan,

Prof Nazaruddin  Umar menjelaskan :

" Agar manusia bisa memenej kalbunya ".

Sebab, martabat spiritual setiap orang ditentukan oleh kemampuannya untuk memanej kalbunya.

 

Jika seseorang mampu memanaj kalbunya dengan baik maka sudah barang tentu akan mendapatkan martabat lebih tinggi di mata Tuhan.

Namun jika seseorang gagal memanej kalbunya maka :

"Akan jatuh ke lembah yang paling hina"

Bahkan disebutkan di dalam Al-Qur'an seseorang bisa jatuh ke lembah yang lebih hina dari pada binatang, seperti firman Allah :

Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk isi neraka Jahanam kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati,

tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan

mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan

mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah).

Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi.

Mereka itulah orang-orang yang lalai.

(Q.S. al-A'raf/7:179).

 

Dalam ayat lain Allah swt menyerukan setiap orang untuk menjalani kehidupannya dengan memahami petunjuk (directions) yang Allah sendiri berikan sebagai sarana di dalam menempuh perjalanan itu, sebagai aman disebutkan:

Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunah Allah;

karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul). (Q.S. Ali 'Imran/3:137).

Pengetahuan amat diperlukan di dalam menjalani visi kehidupan ini.

Pengetahuan dan directions itu sudah diletakkan Allah di sekitar diri kita:

Dan (juga) pada dirimu sendiri.

Maka apakah kamu tiada memperhatikan? (Q.S. al-Dzariyat/51:21).

 

Dalam ayat lain disebutkan:

Siapakah Tuhan selain Allah yang akan mendatangkan sinar terang kepada kalian?

Apakah kalian tidak mendengar? (Q.S. al-Qashash/28:71).

" Dan directions paling nyata sesungguhnya ialah Al-Qur'an " :

Apakah mereka tidak mengkaji Al Qur'an? (Q.S. al-Nisa'/4:82).

" Kita tinggal diminta untuk berfikir memikirkan directions itu":

Apakah kalian tidak berfikir?

(Q.S. Yasin/32:62).

Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?"

 Maka apakah kamu tidak memikirkan (nya)?

(Q.S.al-An'am/6:50).

 

Ayat-ayat di atas cukup menjadi dasar dan sekaligus menjadi keyakinan bagi kita bahwa hidup ini bukanlah sesuatu tanpa tujuan.

Kita diminta untuk menempuh perjalanan hidup ini dengan baik dan benar

jika kita ingin berhasil.

Hidup ini tidak bisa ditempuh secara sembrono tanpa tujuan dan mekanisme untuk mencapai tujuan itu.

Allah menciptakan sesuatu di dalam diri kita sesuatu yang amat penting.

Jika sesuatu itu berhasil maka berhasillah totalitas kehidupan ini, dan jika itu gagal maka gagallah total kehidupan ini.

Sesuatu itu menurut Rasulullah saw ialah kalbu kita.

Mari kita memanej kalbu sebaik-baiknya.

 

Wallahu  Alam.

 

Sumber :

1. Al-Qur'an Indonesia http://quran-id.com

2. Prof. Nasaruddin Umar

Imam Besar Masjid Istiqlal Jakarta - Menentukan Visi Hidup - Detik News. - Jumat, 20 Agu 2021 04:52 WIB