MEMANG "AKU INI SIAPA"

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH

 

Ahklak  al  Kharimah

MEMANG "AKU INI SIAPA"

 

Jangan Sombong Diatas Langit Masih Ada langit

Oleh : Moch. Tohir

 

Kebenaran .

Kebenaran ilmu pengetahuan tidak bersifat absolut , dapat diterima selama tidak ada fakta yang menolak kebenarannya.

Ilmu pengetahuan mempunyai berbagai keterbatasan dan memerlukan bantuan filsafat dalam memberikan jawaban.

Kebenaran filsafat  diperoleh dengan melakukan perenungan kefilsafatan dan bersumber dari rasio sehingga menghasilkan kebenaran yang bersifat subyektif dan solipsistik, sehingga tidak mampu memberikan jawaban yang memuaskan semua pihak.

Untuk permasalahan-permasalahan tertentu filsafat juga tidak dapat memberikan jawaban yang memuaskan, maka manusia mencari jawaban yang pasti dengan berpaling kepada agama.

Kebenaran agama bersifat mutlak karena berasal dari sesuatu yang mutlak dan memberi penyelesaian yang memuaskan bagi banyak pihak.

Agama memberi kepastian yang mantap terhadap suatu bentuk kebenaran karena kebenaran agama didasarkan pada suatu kepercayaan.

Agama mengandung sistem credo atau tata kepercayaan tentang sesuatu yang mutlak diluar manusia. ( Mulyo Wiharto) .

 

Mencari  Kebenaran

Mencari kebenaran (keshalehan) adalah keharusan untuk ditemukan dan dimiliki setiap manusia. (Samsul Nizar)

Memegang Kebenaran

Memegang kebenaran itu merupakan  keharusan (Haedar Nashir)

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اَلْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

"Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu."

(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 147).

Merasa paling benar

Menurut  Samsul  Nizar   merasa paling benar adalah sikap yang harus dihindari dan dihilangkan.

Sikap merasa paling benar berkorelasi dengan sikap merasa paling baik dan paling pintar.

Sifat ini merupakan karakter iblis tatkala berdialog dengan Allah ketika penciptaan Adam sebagai  manusia pertama.

Hal ini dinukilkan Allah :

Allah SWT berfirman : “lngatlah  ketika Tuhanmu berfirman  kepada para Malaikat :

“Sesungguhnya  Aku hendak menjadikan seorang  khalifah  di muka bumi’, Mereka berkata:  ‘Mengapa  Engkau hendak menjadikan  (khalifah)  di bumi itu orang yang akan membuat  kerusakan  padanya dan menumpahkan   darah, padahal  kami senantiasa  bertasbih  dengan memuji Engkau dan mensucikan  Engkau?’ Tuhan berfirman:  ‘Sesungguhnya  Aku mengetahui apa yang tidak  kamu ketahui’.  

(QS.Al• Baqarah 2: Ayat 30). :

Sedangkan menurut Haedar Nashir  merasa diri paling bersih, dan paling suci mesti dihindari agar tidak terjebak pada sikap berlebihan (ghuluw, ekstrem).

Sikap berlebihan dalam hal apapun akan membuat diri menjadi seolah sebagai pengawas dan hakim kebenaran terhadap orang lain, yang belum tentu pihak lain berada di jalan salah atau sepenuhnya salah.

Merasa menjadi polisi dunia. Padahal hidup bersama orang lain yang mesti setara dan berdialog, serta tidak dapat memaksakan kehendak dan pandangan sendiri.

Mengapa harus merasa paling benar?

Kata pepatah, ingat di atas langit ada langit.

Kenapa begitu rupa merasa diri paling benar dan menjadi pengawal kebenaran? 

Apa salahnya suara kebenaran itu pun dibawa dengan cara hikmah, mauidhah hasanah, dan dialogis sebagaimana diajarkan Tuhan sebagai berikut :

1). Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اُدْعُ اِلٰى سَبِيْلِ رَبِّكَ بِا لْحِكْمَةِ وَا لْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَا دِلْهُمْ بِا لَّتِيْ هِيَ اَحْسَنُ ۗ اِنَّ رَبَّكَ هُوَ اَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيْلِهٖ وَهُوَ اَعْلَمُ بِا لْمُهْتَدِيْنَ

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik, dan berdebatlah dengan mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui siapa yang mendapat petunjuk."

(QS. An-Nahl 16: Ayat 125)

2). Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

اِذْهَبَاۤ اِلٰى فِرْعَوْنَ اِنَّهٗ طَغٰى ۚ 

"pergilah kamu berdua kepada Fir'aun, karena dia benar-benar telah melampaui batas;"

(QS. Ta-Ha 20: Ayat 43)

3). Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

فَقُوْلَا لَهٗ قَوْلًا لَّيِّنًا لَّعَلَّهٗ يَتَذَكَّرُ اَوْ يَخْشٰى

"maka berbicaralah kamu berdua kepadanya (Fir'aun) dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan dia sadar atau takut."

(QS. Ta-Ha 20: Ayat 44)

Apalagi kebenaran yang bersifat pengetahuan, ilmu, dan menyangkut urusan kehidupan dunia atau muamalah-dunyawiyah , Ushul fikih mengajarkan, urusan muamalah itu hukumnya ibahah (boleh) kecuali yang terang dilarang menurut syariat.

Hal yang disebut syar’i pun banyak aspek dan mazhabnya, tidaklah tunggal dan serba absolut. Maka, jangan memutlakkan pandangan soal urusan dunia seperti politik, ekonomi, hukum, budaya, dan sebagainya.

Cara memahami dan menghadapi urusan dunia pun tidak bisa hitam-putih, perlu banyak pandangan dan langkah.

Siapapun yang suka memutlakkan urusan dunia, lebih-lebih dengan kacamata sendiri, sama dengan tidak memahami kenyataan hidup secara luas, mendalam, dan terkoneksi satu sama lain dalam matarantai kehidupan yang kompleks.

Islam Mengajarkan Tidak Boleh Merasa Paling Benar

Islam mengajarkan umatnya agar tidak merasa diri paling benar, paling bersih. Pihak lain dianggap salah dan kotor.

Allah mengingatkan umat beriman,

“Apakah kami tidak memperhatikan orang yang menganggap dirinya bersih. Sebenarnya Allah mensucikan siapa yang dikehendaki-Nya dan mereka tidak dianiaya sedikitpun.”

(QS An-Nisa/4: 49).

Sementara Nabi dalam hadis dari Abu Hurairah, baginda berkata, “Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.” (HR. Bukhari).

Ibnu Qayyim Al-Jauziyah pernah berkata penuh ibrah,

“Jika Allah Ta’ala membukakan untukmu pintu shalat malam, jangan memandang rendah orang yang tertidur.

Jika Allah membukakan untukmu pintu puasa (sunnah), janganlah memandang rendah orang yang tidak berpuasa.”

Dikatakan, “Dan jika Allah membukakan untukmu pintu jihad, maka jangan memandang rendah orang lain yang tidak berjihad.

Sebab, bisa saja orang yang tertidur, orang yang tidak berpuasa (sunnah), dan orang yang tidak berjihad itu lebih dekat kepada Allah ketimbang dirimu.”.

Ambilah ibrah,  pelajaran sarat makna dari tempat manapun. Hisablah diri sebelum menghisab dan dihisab orang.

Bila kita benar sekalipun, tidak perlu gemar menyalahkan orang lain.

Jika diri perkasa, apakah tidak congkak menganggap orang lain lunak dan lemah.

Seringlah merenung, siapa tahu kita salah menilai keadaan, ketika kita terlalu yakin akan kebenaran sendiri. Agar kita tidak zalim terhadap orang lain dan gagal paham tentang keadaan.

 

Imam Syafii yang luas ilmu dan luhur akhlaknya berkata bijakkalamy shawaabu yahtamilu al-khathaa, wa kalamu ghairy hathau yahtamilu al-shawaaba. 

Artinya: “Pendapatku boleh jadi benar tetapi berpeluang salah, sedangkan pendapat orang lain bisa jadi salah namun berpeluang benar.”.

 

Maaf, artikel ini ditulis bukan dalam rangka menunjukkan yang paling benar , sebab penulis pun sadar " Memang Siapa Saya ", diatas langit masih ada langit.

 

Wallahu  Alam.

 

Sumber :

1.Haedar Nashir - Ketua Umum PP Muhammadiyah - Merasa Paling Benar - Republika co id - 2-12-2020.

2.Samsul Nizar - Guru Besar STAIN Bengkalis - Cermin Diri - Riau Pos - 28 - 9 - 2020.

3. Mulyo Wiharto - Kebenaran - ejurnal.esaunggul . ac.id.