MITSAQAN GHALIDZA

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH

 

Ahklak  al  Kharimah

MITSAQAN GHALIDZA

 

Makna Pernikahan Dalam Islam

Oleh : Moch. Tohir.

 

DR Ma'mun Murod Al-Barbasy, Dosen Uhamka, Jakarta menyebutkan bahwa dalam Islam, pernikahan disebutnya sebagai mitsaqan ghalidza atau "perjanjian agung" .

Apa yang dimaksud dengan Mitsaqan Ghalidza   , berikut penjelasannya.

1."Perjanjian Agung",  yang dalam bahasa Alquran disejajarkan dengan :

a). Mitsaqan Ghalidza (Perjanjian Agung) antara Allah dengan para Rasul berpredikat Ulul Azmi: Nuh, Ibrahim' Musa, dan Isa ,

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَاِ ذْ اَخَذْنَا مِنَ النَّبِيّٖنَ مِيْثَا قَهُمْ وَمِنْكَ وَمِنْ نُّوْحٍ وَّاِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسَى ابْنِ مَرْيَمَ ۖ وَاَ خَذْنَا مِنْهُمْ مِّيْثَا قًا غَلِيْظًا ۙ 

"Dan (ingatlah) ketika Kami mengambil perjanjian dari para nabi dan dari engkau (sendiri), dari Nuh, Ibrahim, Musa, dan 'Isa putra Maryam, dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang teguh,"

(QS. Al-Ahzab 33: Ayat 7)

b). Mitsaqan Ghalidza antara Allah dengan Bani Israil yang kalau dalam Alquran diceritakan bahwa dalam melakukan perjanjian ini sampai-sampai Allah angkat Gunung Thursina di atas kepala Bani Israel .

Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَرَفَعْنَا فَوْقَهُمُ الطُّوْرَ بِمِيْثَا قِهِمْ وَقُلْنَا لَهُمُ ادْخُلُوا الْبَا بَ سُجَّدًا وَّقُلْنَا لَهُمْ لَا تَعْدُوْا فِى السَّبْتِ وَاَ خَذْنَا مِنْهُمْ مِّيْثَا قًا غَلِيْظًا

"Dan Kami angkat Gunung (Sinai) di atas mereka untuk (menguatkan) perjanjian mereka. Dan Kami perintahkan kepada mereka, Masukilah pintu gerbang (Baitulmaqdis) itu sambil bersujud, dan Kami perintahkan (pula), kepada mereka, Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabat. Dan Kami telah mengambil dari mereka perjanjian yang kukuh."

(QS. An-Nisa' 4: Ayat 154)

 

2. Al-Quran Sebut Pernikahan Sebagai ‘Mitsaqan Ghalizhon’.

Allah tidak menyebut pernikahan sebagai akad (‘aqdan), akan tetapi sebagai perjanjian (mitsaaq) yang disifatkan sebagai perjanjian yang sangat kuat (Mitsaqan Ghalizon). 

Penggunaan kata tersebut tidak pernah dipakai dalam bentuk kegiatan apa pun selain pernikahan.

Berikut surat yang menyebutkan bahwa pernikahan adalah perjanjian kuat pada QS. An-Nisa’: 20-21,

وَإِنْ أَرَدْتُمُ اسْتِبْدَالَ زَوْجٍ مَكَانَ زَوْجٍ وَآتَيْتُمْ إِحْدَاهُنَّ قِنْطَارًا فَلَا تَأْخُذُوا مِنْهُ شَيْئًا أَتَأْخُذُونَهُ بُهْتَانًا وَإِثْمًا مُبِينًا (20) وَكَيْفَ تَأْخُذُونَهُ وَقَدْ أَفْضَى بَعْضُكُمْ إِلَى بَعْضٍ وَأَخَذْنَ مِنْكُمْ مِيثَاقًا غَلِيظًا – 21

Dan jika kamu ingin mengganti istrimu dengan istri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seorang di antara mereka harta yang banyak, maka janganlah kamu mengambil kembali sedikit  pun darinya. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata?

Dan bagaimana kamu akan mengambil kembali, padahal kamu telah bergaul satu sama lain (sebagai suami istri).

Dan mereka (istri-istrimu) telah megambil perjanjian yang kuat (ikatan pernikahan) dari kamu. 

(QS. An-Nisa’: 20-21)

 

3. Kemudian dari Ibnu Abbas, Mujahid, dan Sa’id ibnu Jubair, menyebutkan bahwa :

Yang dimaksud dengan Mitsaqan Ghalizon(perjanjian yang kuat) adalah akad pernikahan.

 

4. Selanjutnya, Sufyan As-Sauri meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa :

Maksud dari Mitsaqan Ghalizon ialah memegang dengan cara yang patut atau melepaskan dengan cara yang baik.

 

5. Imam Jalaluddin al-Mahalli dan Imam Jalaluddin As-Syuyuti dalam Tafsir jalalain  menyebut :

Mitsaq  sebagai bentuk taukid, artinya penekanan atau penegasan dari sebuah janji.

Janji adalah komitmen, lebih dari sekedar janji.

Sedangkan lafal Ghalizon

berasal dari kata ghilzh yang artinya kuat, berat, tegas, kokoh.

 

6. Pendapat Ibnu Katsir dalam menafsirkan lafal Mitsaqan Ghalizon, ia mengutip hadis shahih dari Jabir dalam kitab Shahih Muslim yang menyatakan bahwa :

Ketika seorang laki-laki mengambil perempuan dari orang tuanya dengan maksud dinikahi, berarti laki-laki tersebut telah melakukan perjanjian atas nama Allah sebagaimana ia telah menghalalkan melalui kalimat Allah. 

 

7. Lafal Mitsaqan Ghalizon juga diartikan Sayyid Qutub pada Tafsir Fi Zhilaalil Qur’an, bahwa :

Mitsaqan Ghalizon merupakan perjanjian akad nikah, dengan nama Allah.

Ini adalah perjanjian yang kuat yang tidak akan direndahkan, dengan begitu pasangan (suami dan istri) supaya menghormati perjanjian yang kuat ini.

Lafal akad yang diucapkan oleh laki-laki ketika menikahi perempuan disebut sebagai Mitsaqan sebagai perjanjian yang sangat kuat, maka, tidak boleh sembarangan.

Dengan begitu, ada tanggungjawab serta konsekuensi di dalamnya.

Pihak suami harus sadar ketika mengucapkan janji pernikahan tersebut.

Isi dari janji tersebut sebagaimana yang dijelaskan Allah dalam firman-Nya Qs. Al-Baqarah: 229,

الطَّلَاقُ مَرَّتَانِ فَإِمْسَاكٌ بِمَعْرُوفٍ أَوْ تَسْرِيحٌ بِإِحْسَانٍ …..

Talak (yang dapat dirujuk) dua kali. Setelah itu boleh ruju lagi’ degan cara ma’ruf atau meceraikan dengan cara yang baik. (QS. Al-Baqarah: 229).

Artinya dalam kondisi apa pun suami harus menjaga janji pernikahan, jika suatu pernikahan tidak bisa dipertahankan, sehingga memilih jalan perceraian, maka untuk melakukan perceraian juga harus dengan cara yang baik.

 

8.Tafsir al-Misbah karangan Quraish Shihab menanggapi nikah pada lafal Mitsaqan Ghalizon adalah ditinjau dari konteks diartikan sebagai : Mahar atau mas kawin.

Disebabkan seorang wanita rela dan bersedia menyerahkan rahasianya yang terdalam kepada suaminya, memperbolehkan suaminya melakukan hubungan seks dengannya, dengan demikian mas kawin bukan berarti menggambarkan sebagai imbalan bersamanya.

Karena kalaupun suami sudah memberikan mahar, akan istri tidak mau tidak digauli, maharpun tidak bisa diambil oleh suami.

 

9. Kemudian Sayyid Qutub menulis makna Mitsaqan Ghalizonpada kitab Tafsir Fi Zhilalalil Qur’an dari sisi konteks ialah : Mahar atau mas kawin,

disebabkan sebagai mahar atau mas kawin karena pernikahan itu tidak mungkin ditiadakannya hubungan intim.

Maka menyikapi hal tersebut diharuskan adanya mahar.

Dengan menyebut pernikahan sebagai Mitsaqan Ghalidza, artinya pernikahan bukan perjanjian yang bisa dimain-mainkan.

Memperkuat firman-Nya, Rasul bahkan sampai bersabda bahwa :

"Perbuatan yang dibolehkan tapi paling dibenci Allah adalah perceraian ".

 

Mendasarkan pada dalil - dalil naqli tersebut, maka dalam Islam, seseorang yang sudah terikat dalam sebuah pernikahan tak bisa main cerai seenaknya saja.

Tak semestinya menjadikan pernikahan sebagai "barang mainan", yang seenaknya bisa dilempar, dibuang, dipecahkan atau bahkan dirusak.

Wallahu Alam

 

 

Sumber :

1. M Quraish Shihab - Tafsir al Misbah.

2. DR. Ma'mun Murod al Barbasy - Mitsagan Ghalidza - Republika co id 8 Januari 2018.

3. Abi Abdul Jabbar -;Mitsaqan Ghalidza - Madaninews. Id. 25 Agustus 2020