PELAJARAN CERDAS DARI SEMUT SULAIMAN

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH

 

Ahklak  al  Kharimah

PELAJARAN CERDAS

DARI

SEMUT SULAIMAN

 

Oleh :Moch. Tohir.

Nabi Sulaiman AS merupakan salah satu keturunan Rasul dan Raja yaitu Nabi Daud AS .

Sebelum Nabi Sulaiman diangkat menjadi seorang Rasul oleh Allah SWT, Nabi Daud merupakan seorang pemegang kerajaan terbesar di dunia dan juga seorang Rasulullah.

Nabi Sulaiman diutus oleh Allah SWT untuk memimpin Bani Israel. 

Beliau menjadi seorang pemimpin yang sangat baik dan bijaksana. Sehingga hal ini berhasil membawa kemakmuran bagi rakyatnya.

 

Di samping itu, Nabi Sulaiman juga diberi karunia oleh Allah SWT yang kemudian disebut sebagai mukjizat yaitu dapat mengerti bahasa binatang. 

Hal ini sebagaimana termaktub dalam salah satu surah Al-Quran, yang artinya:

“Hai sekalian semut, masuklah kamu ke dalam sarangmu, agar kalian tidak terinjak Sulaiman dan balatentaranya, mereka tidak mengetahuinya.

Mendengar itu , Sulaiman tertawa seraya berdo'a kepada Tuhan:

Ya Tuhanku, tetapkanlah hatiku bersyukur kepada Tuhan, yang telah memberikan karunia kepadaku dan kepada ibu-bapakku, dan masukkanlah kami ke dalam hamba-hambaku yang saleh-saleh.”

 (QS an-Namel Ayat 18-19).

 

Menurut sebuah riwayat, pernah suatu hari Nabi Sulaiman bertanya kepada seekor semut. 

Wahai semut , berapa banyak kau peroleh rezeki dari Allah dalam waktu satu tahun?

Sebesar gandum   , jawabnya.

Kemudian Nabi Sulaiman memberi semut itu sebiji gandum dan memeliharanya dalam sebuah botol.

 

Setelah genap satu tahun, Nabi Sulaiman membuka botol untuk melihat nasib si semut.

Namun yang didapatinya si semut hanya memakan sebagian saja dari biji gandum tersebut.

Mengapa kau hanya memakan sebagian saja dan tidak menghabiskannya? Tanya nabi Sulaiman .

Aku tidak yakin kalau tahun depan engkau akan memberiku lagi sebutir gandum, sehingga aku harus sisakan sebagai bekal pada tahun berikutnya  , jawab si semut.

 

Kisah yang sederhana sepertinya banyak mengandung pelajaran yang berharga bagi kita antara lain :

1. Mungkin Si semut tahu betul, walaupun sebagai seorang nabi , Sulaiman bisa juga lupa dan tahun depan jangan -jangan tidak memberi gandum lagi.

2. Mungkin Si Semut tahu betul, walaupun Nabi Sulaiman sekarang Kaya Raya, belum tentu tahun depan masih kaya , jangan-jangan jatuh miskin dan tidak bisa memberi gandung lagi.

3. Mungkin Si semut juga tahu bahwa umur Sulaiman yang tentukan Allah, jangan-jangan umurnya tidak sampai tahun depan. Wallahu Alam.

Tetapi yang pasti  si Semut telah memberi pelajaran yang cerdas bagi kita untuk memikirkan bagaimana    " hari esok "  dengan memanfaatkan  " apa yang kita miliki hari ini " tanpa berharap bantuan orang lain atau dengan kata lain " hidup hemat dan mandiri".

+++++

 

Hidup Berhemat

Sikap berhemat bagi seorang manusia bukan berarti ia menjadi kikir.

Hemat adalah sikap pertengahan antara kikir dengan boros.

Dalam buku Sirah Nabawiyyah karya Muhammad Ridha disebutkan setiap keutamaan adalah pertengahan antara dua sifat buruk.

Sedangkan hemat bukanlah tindakan yang berat sebelah.

 

Allah SWT mencela orang-orang yang kikir dan bakhil.

Namun demikian, Allah juga mencela orang-orang yang boros. Manusia ada kalanya kikir dan ada kalanya boros.

Sikap boros misalnya, disamakan dengan perumapamaan bahwa manusia yang boros adalah saudara-saudaranya syetan.

 

Allah SWT berfirman dalam Alquran Surah Al-Israa penggalan ayat 27 berbunyi: “Innal-mubadzirina kaanu ikhwana as-syayathin,” yang artinya: “Sesungguhnya para pemboros itu adalah saudara-saudaranya syetan”.

Mengenai sikap hemat, Allah memerintahkan kita untuk memerhatikannya.

Seperti dalam hal memberi nafkah yang merupakan jalan dari sebuah kebahagiaan.

 

Dalam Alquran Surah Al Israa ayat 29 berbunyi: “Wa la taj’al yadaka maglulatan ila unuqika wa la tabsuth-ha kulal-basithi fataq’adu maluuman mahsura,” yang artinya:

Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu, dan jangan pula kamu terlalu menguurkannya yang akibatnya kamu menjadi tercela dan menyesal”.

Dalam buku ini dijelaskan bahwa Allah SWT menyuruh Rasulullah beserta kaum Muslimin untuk tidak menahan diri dalam mencari nafkah.

Dengan demikian manusia tidak mempersempit dirinya sendiri dan keluarganya dalam menempuh jalan-jalan kebaikan.

Manusia juga tidak boleh tangannya tergenggam (pelit) dan juga tidak boleh terlalu mengulurkannya (boros).

Sebab jika kedua hal itu dilakukan, maka manusia akan mencela dirinya sendiri.

+++++

Hidup Mandiri

Syekh Yasir Abdurrahman dalam bukunya yang berjudul Mausu’at al-Akhlaq wa az-Zuhd wa ar-Raqaiq mengutarakan bahwa sikap tidak enteng meminta-minta sekalipun tengah butuh merupakan salah satu bentuk akhlak yang mulia dalam Islam.

Ini disebut dengan ta’affuf.

Syekh Yasir mengungkapkan, sikap berdikari dan mandiri tersebut memiliki banyak keutamaan.

Allah SWT secara langsung memuji para hamba-Nya, terutama mereka yang fakir, tetapi di saat bersamaan mereka tetap terhormat, tidak meminta-minta.

Dengan bersikap ta’affuf maka keberuntungan dan kebahagian akan datang.

Penegasan ini disampaikan Rasulullah SAW di hadis Muslim. Rasul menyatakan, beruntunglah orang yang masuk Islam dan diberikan sikap tak meminta-minta, dan Allah akan cukupkan selalu rezeki yang telah ia peroleh.

Kebiasaan tidak meminta-minta dan tetap berdikari tersebut sangat ditekankan oleh Rasulullah.

Ini seperti ditegaskan di riwayat Hakim bin Hizam yang disepakati oleh kebanyak imam hadis.

Dalam hadis tersebut, Rasul menyatakan, memberi lebih baik dari pada menerima atau meminta-minta.

Dan barang siapa menjaga harga diri dengan tidak meminta-minta, maka Allah SWT akan cukupkan hidupnya.

Para sahabat juga mempraktikkan tuntunan ini sebagai jalan hidup mereka.

Abu Hurairah, misalnya. Sahabat yang terkenal dengan periwayatan hadis paling banyak itu pernah bertutur, dirinya tidak akan menolak pemberian hadiah.

Tetapi, ia paling pantang jika harus meminta-minta atau bahkan menjilat.

 

Syekh Yasir pun berbagi kiat sederhana bagaimana agar tetap mandiri, berdikari, dan tidak enteng meminta.

Tentu yang pertama ialah menekan syahwat dunia.

Hasrat duniawi seseorang tidak akan puas.

Bila terus dituruti maka tidak akan pernah bermuara.

 

Selanjutnya, kata Syekh Yasir, tetaplah ridha dan bersikap cukup atas pemberian dan rezeki Allah yang telah diberikan. Jangan pernah melihat nikmat Allah atas orang lain.

Di hadis yang muttafaq alaih Rasul pernah mengingatkan, tali yang dipecutkan di atas punggung seseorang lebih baik ketimbang ia mendatangi koleganya lalu meminta-minta.

Dan, berusahalah tetap berdoa agar Allah memberikan petunjuk senantiasa mandiri dan berdikari.

Rasul konon tak pernah melewatkan doa berikut. “Allahumma inni as’alukal al-afafa wal ghina (Ya Allah aku meminta kepada-Mu sikap terjaga dan kaya)”.

Dan, tentunya, iringi doa tersebut dengan usaha nyata Anda.

Karena, bagaimanapun kemandirian berusaha dan bekerja itu adalah sebaik-baik aktivitas.

( Hadis Bukhari dari Rafi’ bin Khadij RA.)

 

Wallahu Alam.

 

Sumber:

1. Husein Shahab-Dialog dialog Sufi-PT Remaja Rosdakarya Bandung.

2. Kiat hidup sederhana dan mandiri Republika Kamis 6 September 2018 14.15.

3.Anjuran berhemat dalam Islam Sabtu 15 Pebruari 2020 17:33.