SAHABAT YANG RAMAH

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH

 

Ahklak  Al  kharimah.

Menunggu Sahabat

Maut Yang Ramah

 

Oleh : Moch. Tohir

Kemuliaan seorang muslim ada pada ibadah malamnya dan kehormatan seorang muslim ada pada sikap tidak membebani orang lain. (HR Tabrani ).

Wahai jiwa yang damai, kembalilah kepada Tuhanmu dengan penuh ridho dan diridhoi , maka masuklah kedalam golongan hamba - hambaKu dan masuklah kedalam surgaku ( Qs. Al Fajar 89:27-30 )

Didalam ayat tersebut diatas mengandung  makna bahwa hanya jiwa yang damai dan yang ridho dan diridhoi-lah yang diperkenalkan untuk masuk kedalam surga.

Bagaimana  menjadikan jiwa selalu merasa damai dan hidupnya selalu diridhoi Allah ?

Orang - orang bijak memberikan nasehatnya sebagai berikut.

Pertama

Jadikan maut sebagai pelajaran.

Setiap manusia pasti akan bertemu dan menghadapi maut   , karena hidup di dunia ini hanyalah singgahan sementara.

Selama hidup didunia inilah manusia berusaha mencari bekalnya untuk menghadapi kehidupan kekal di akhirat kelak, agar ketika akhir zaman tiba dan ia telah meninggalkan dunia, bekal itulah yang akan menemani dirinya dikegelapan alam kubur.

Orang yang berakal adalah orang yang dapat mengambil pelajaran dari maut, sebab maut adalah pemberi nasihat yang terbaik.

 

Kedua

Jadikan maut sebagai perenungan.

Sebagian ahli zuhud apa nasehat yang paling besar ?

Jawabnya merenungkan  maut.

 

Al-Qurthubi melukiskan maut dengan sangat baik,

“Ketahuilah bahwa maut adalah hal yang menakutkan,

perkara yang menyeramkan, cangkir yang rasanya menjijikkan.

Sesungguhnya maut itu menghancurkan kelezatan, memutuskan kesenangan, dan mendatangkan hal-hal yang dibenci.

Hal yang menghancurkan sendi-sendimu pastilah perkara yang menakutkan,

sesuatu yang besar, dan

harinya pastilah hari yang besar.”

 

Sebagaimana hidup merupakan tanda kekuasaan Allah,

maka maut juga tanda kekuasaan Allah,

tetapi jangan Anda katakan bahwa itu aneh.

Allah berfirman,

“Mengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan,”

(QS. al-Baqarah: 2: 28).

 

Memikirkan ayat ini berarti memikirkan salah satu ciptaan dan keajaibannya yang menunjukkan kebesaran kekuasaan Allah.

Diriwayatkan bahwa seorang Badui bepergian dengan naik unta,

lalu tiba-tiba untanya terpuruk dan mati.

Si Badui turun dari unta itu lalu mengelilinginya dan memikirkannya,

Kenapa kau tidak bangkit?

Kenapa kau tidak berdiri? Anggota tubuhmu lengkap dan sehat.

Ada apa denganmu?

Apa yang menyebabkan kau seperti ini?

Apa yang dapat membuatmu bangkit?

Apa yang merobohkanmu?

Apa yang membuatmu tidak bergerak?”

Kemudian ia pergi sambil memikirkan hal itu dan merasa takjub.

 

Ketiga.

ALLAH memberi nasihat tentang maut kepada Rasul-Nya, “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka juga akan mati,” (QS. az-Zumar: 42).

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Thabrani  ,

disebutkan bahwa sahabat Ali ibn Abi Thalib, berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

“Jibril mendatangiku dan berkata, ‘Hai Muhammad,

hiduplah sesuka hatimu, sebab kau pasti mati.

Cintailah orang yang kau sukai, tapi pasti kau akan berpisah dengannya.

Beramallah sesukamu,

sebab pasti (amal)mu akan dibalas.

Ketahuilah,

kemuliaan seorang mukmin ada pada ibadah malamnya, dan

Kehormatannya ada pada sikap tidak membebani orang lain’.”

Kami akan sampaikan beberapa nas dari Allah dan Rasul yang mengingat kematian.

Ini adalah kebiasaan orang shalih, yakni mereka mengingatkan diri mereka dan orang lain akan kematian.

Ali ibn Abi Thalib berkata,

“Dunia berjalan ke belakang, dan akhirat berjalan ke depan. Keduanya memiliki pengikut. Jadilah pengikut akhirat dan jangan jadi pengikut dunia.

Sebab, hari ini adalah amal dan bukan hisab, sedangkan besok adalah hisab dan tidak ada amal.”

Diriwayatkan oleh Bukhari dalam shahihnya.

 

Keempat

Jadikan maut sebagai pertimbangan sebelum berpikir dan  bertindak.

Sebab bila maut dijadikan bahan perenungan, maka perilaku kita bisa jauh berubah.

Dengan mengingat maut  ,

maka kita akan berfikir buat apa mencari kekayaan dengan cara tidak halal,

karena maut akan segera mengubahnya menjadi hutang yang sangat berat dipikul selama lamanya.

Buat apa menzalimi orang kalau maut segera akan membalikkan keadaan.

Sebaliknya dengan merenungkan maut maka hati orang yang beriman akan membawa kita kepada kebaikan.

Kita akan bertindak jujur  ,

bekerja giat demi kemaslahatan hidup .

Karena dengan pilihan inilah maut tidak akan menampakkan dirinya sebagai sosok yang mengerikan.

Dia bahkan akan datang sebagai sahabat yang ramah  .

Wallahu  Alam

 

 

Sumber:

1.Ensiklopedia Kiamat: Dr. Umar Sulayman al-Asykar.Penerbit: Serambi.

2.Dialog-dialog Sufi -2 : Husein Shahab - Penerbit PT Remaja Rosdakarya-Bandung.

3.Mas Mantri Menjenguk Tuhan-Ahmad Tohari - Penerbit Risalah Gusti -Surabaya.