WAJIB MENCARI ILMU

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH.

 

Ahklah al  Kharimah

WAJIB  MENCARI  ILMU

 

Jangan melihat siapa yang menyampaikan, tetapi lihatlah apa yang disampaikan.

 

Umat Islam Dilarang Bodoh

Oleh : Prof. Dr. H. Imam Suprayogo

Ayat al Qur'an yang pertama kali diturunkan adalah perintah membaca, dan bukan perintah shalat, puasa, zakat dan apalagi haji.

Membaca adalah pintu mendapatkan ilmu pengetahuan. Tidak mungkin orang yang tidak membaca akan memperoleh ilmu, baik membaca ayat-ayat qawliyah maupun ayat-ayat kawniyah.

Oleh karena itu, membaca sedemikian penting dalam Islam.

Orang yang pintar dan terbiasa membaca akan kaya informasi, fakta, data, dan ilmu pengetahuan.

Begitu pula sebaliknya, orang yang tidak bisa atau tidak mau membaca, maka tidak akan mengetahui apa-apa.

Betapa pentingnya membaca atau ilmu pengetahuan, hingga al Qur'an sampai menyindir dengan ungkapan yang amat menarik, yaitu : 'adakah sama orang yang mengetahui dan orang yang tidak mengetahui'. Padahal agar mengetahui sesuatu, maka siapapun harus melihat atau membaca itu.

 

Masih terkait tentang betapa pentingnya ilmu pengetahuan, agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad mewajibkan umat Islam untuk mencari ilmu hingga tidak terbatas waktunya, yaitu mulai dari ayunan hingga liang lahat.

Selain itu, mencari ilmu juga tidak dibatasi tentang tempat atau sumber ilmu itu, yaitu ke mana saja hingga ke negeri China sekalipun.

Bahkan ada satu riwayat terkait dengan ilmu, agar jangan melihat siapa yang menyampaikan tetapi supaya dilihat apa yang disampaikan.

Jika membaca dan mencari ilmu itu adalah diwajibkan, dan bahkan waktunya sampai kapan saja hingga sepanjang hidupnya, maka artinya umat Islam dilarang bodoh.

 

Umat Islam dilarang meninggalkan shalat, diwajibkan puasa, membayar zakat, dan jika mampu agar berhaji, maka juga ada larangan bagi umat Islam, ialah berdiam diri untuk mempertahankan kebodohannya.

Umat Islam harus pintar, cerdas, kaya informasi, dan juga unggul dalam ilmu pengetahuaan.

Berbicara ilmu, sementara ulama membaginya menjadi dua, yaitu:

+ ilmu yang hukum mencarinya adalah fardhu ain dan

+ kedua adalah jenis ilmu yang mempelajarinya adalah fardhu kifayah.

 

Disebutkan bahwa mempelajari al Qur'an dan hadits nabi adalah fardhu ain, maka semua kaum muslimin di sepanjang hidupnya harus secara istiqomah mempelajari kedua sumber ajaran Islam itu hingga tidak mengenal berhenti.

Selain itu, kaum muslimin masih diwajibkan mempelajari ilmu yang bersifat pilihan atau fardhu kifayah.

Sedangkan yang dimaksud ilmu pilihan yang dikategorikan sebagai fardhu kifayah itu adalah berbagai jenis ilmu pengetahuan yang diperlukan bagi kehidupan di dunia ini. Misalnya ilmu kedokteran, ilmu pertanian, ilmu komunikasi, ilmu kedirgantaraan, ilmu pertambangan, ilmu pendidikan, ekonomi, dan seterusnya. .

 

Oleh karena hukumnya adalah fardhu kifayah, maka ketika sudah ada beberapa orang yang mempelajarinya, maka kewajiban terhadap yang lain menjadi gugur.

Jadi kaum muslim selain berkewajiban mempelajari al Qur'an dan hadits nabi yang bersifat fardhu ain juga masih ditambah berkewajiban mempelajari ilmu yang bersifat fardhu kifayah sebagaimana dicontohkan di muka.

 

Adanya kewajiban mempelajari ayat-ayat al Qur'an dan hadits nabi dimaksud maka dengan jelas bisa ditangkap bahwa, umat Islam sebenarnya berkewajiban untuk menjadi kaya ilmu, baik yang bersumber dari ayat-ayat qawliyah maupun ayat-ayat kawniyah.

Dengan demikian umat Islam seharusnya unggul di bidang ilmu pengetahuan dan bahkan juga teknologi.

 

Namun jika sementara ini, umat Islam dirasakan masih mengalami ketertinggalan, maka sebenarya hal itu bukan disebabkan oleh ajaran Islam, melainkan justru sebaliknya. Umat Islam diharuskan menjadi kaya ilmu pengetahuan.

Umat Islam dilarang bodoh oleh agamanya sendiri.

Nabi Muhammad diturunkan di kalangan masyarakat Qurasy yang disebut sebagai masyarakat jahiliyah atau masyarakat yang mengalami kegelapan atau kebodohan.

Nabi datang untuk menghilangkan kebodohan itu.

Kebodohan disamakan dengan kegelapan.

Siapapun yang berada di suasana atau keadaan gelap, maka pasti tidak akan bisa melihat.

Orang yang tidak bisa melihat maka pasti tertinggal, bodoh, kalah atau terbelakang. Umat Islam tidak boleh atau dilarang menempati posisi itu.

Umat Islam harus menjadi yang terbaik, dan selalu menyeru pada kebaikan.

Wallahu a'lam

Prof. Dr. Imam Suprayogo

Dosen UIN Maulana Malik

Malang , Selasa  21  Juli  2015

Editor : Moch. Tohir