MASYARAKAT KHAIRA UMMAH

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA   UMMAH

 

KAJIAN  ISLAM

MASYARAKAT  KHAIRA  UMMAH

 

Allah Swt menegaskan perlunya mengutamakan pendekatan kemanusiaan di dalam menyelesaikan setiap persoalan di antara umat manusia.

Karena Allah Swt sendiri memuliakan manusia tanpa membedakan etnik, agama, dan kepercayaan sebagaimana ditegaskan:

"Wa laqad karramna Bani Adam (Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam " Q.S. Al-Isra' 17:70 ).

 

Oleh : Moch. Tohir

 

Lahirkan istilah Masyarakat Khaira Ummah atau ada yang menyebut dengan Komunitas Ummah tidak bisa dilepaskan dari sejarah Islam, atau  tepatnya sejarah ber-Hijrahnya Rasulullah saw dari Mekah ke Madinah.

Nabi Muhammad SAW memutuskan hijrah setelah memperoleh wahyu dan perintah dari Allah untuk menyebarkan ajaran Islam ke masyarakat.

1 Muharram kemudian dikenal sebagai tahun baru Islam.

Dikutip dari Di Balik 7 Hari Besar Islam (2012) karya Muhammad Sholikhin, terdapat beberapa hal yang menjadi refleksi dan renungan Tahun Baru Hijriah, antara lain :

 

Pertama :

Sikap kepemimpinan.

Nabi Muhammad menyelamatkan para pengikutnya terlebih dahulu dari ancaman kaum penyembah berhala di Mekkah dengan melakukan hijrah (migrasi atau pindah) ke Yathrib (Madinah).

 

Kedua :

Persaudaraan universal

Nabi Muhammad melahirkan persaudaraan universal atas dasar persamaan agama dan ideologi.

Melalui Piagam Madinah, Nabi Muhammad juga membuat perjanjian bersaudara atas nama kemanusiaan terhadap kelompok yang berbeda keyakinan.

 

Ketiga :

Piagam Madinah.

Piagam Madinah  ialah sebuah dokumen yang disusun oleh Nabi Muhammad SAW, yang merupakan suatu perjanjian formal antara dirinya dengan semua suku suku dan kaum kaum penting di Yatsrib (kemudian bernama Madinah) pada tahun 622 M.

Dokumen tersebut disusun sejelas jelasnya dengan tujuan utama untuk menghentikan pertentangan sengit antara Bani Aus dan Bani Khazraj di Madinah.

Untuk itu dokumen tersebut menetapkan sejumlah hak hak dan kewajiban - kewajiban bagi kaum Muslim, kaum Yahudi, dan komunitas komunitas lain di Madinah, sehingga membuat mereka menjadi suatu kesatuan komunitas, yang dalam bahasa Arab disebut Ummah.

 

Keempat :

Komunitas Ummah atau Khaira Ummah.

Prof Nazaruddin Umar menjelaskan sebagai berikut :

Khaira Ummah  artinya :

"Menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."

Penjabaran konsep Khaira Ummah dalam ayat tersebut di atas menurut kalangan tafsir ialah :

" Menebarkan energi positif terutama kepada umat manusia tanpa membedakan jenis kelamin, golongan, etnik, kewaarganegaraan, warna kulit, agama, dan kepercayaannya masing-masing ".

 

Tidak termasuk Khaira Ummah bagi orang yang suka menghina dan menghujat orang lain.

Kebenaran dan keadilan memang perlu ditegakkan tetapi dengan cara-cara terhormat dan bermartabat.

Allah Swt mengenyampingkan pendekatan kekerasan di dalam menyelesaikan persoalan umat.

Atas nama apapun, untuk siapapun, kepada siapapun, dan dari manapun, kekerasan tidak pernah ada tempatnya di dalam Islam.

 

Allah Swt sendiri menegaskan:

" La ikraha fi al-din (Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam) "

Q.S. al-Baqarah 2:256.

Allah Swt menegaskan perlunya mengutamakan pendekatan kemanusiaan di dalam menyelesaikan setiap persoalan di antara umat manusia.

Karena Allah Swt sendiri memuliakan manusia tanpa membedakan etnik, agama, dan kepercayaan sebagaimana ditegaskan:

"Wa laqad karramna Bani Adam (Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam "

Q.S. Al-Isra' 17:70 )

 

Umat yang ideal selalu menebarkan kedamaian, persaudaraan, kerjasama satu sama lain.

Dalam Islam tidak ada larangan untuk berbuat baik dan bekerjasama dengan orang-orang non-muslim.

Nabi Muhammad saw sendiri mencontohkan terbuka menerima kehadiran non-muslim di dalam lingkungan pemerintahannya.

Salman al-Farisi, arsitek perang Nabi, sudah lama bergabung dengan Nabi sebelum ia menjadi muallaf di akhir hayat Nabi.

 

Demikian pula praktek para sahabat dan tabi'in, selalu memberi ruang terhadap kelompok non-muslim.

Dalam Islam sendiri sudah ditegaskan bahwa keberadaan multi etnik dan agama tidak mesti difahami sebagai sebuah ancaman.

 

Sebaliknya Islam menganggapnya sebagai sebuah kekayaan yang bisa mendatangkan berbagai berkah.

Al-Qur'an pernah menegaskan bahwa:

"Dan jikalau Tuhanmu menghendaki, tentulah beriman semua orang yang di muka bumi seluruhnya. Maka apakah kalian (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

(Q.S. Yunus/10:99).

 

Perhatikan ayat ini menggunakan kata lau (wa lau sya' Rabbuka), yang dalam kebiasaan Al-Qur'an jika digunakan kata lau, bukannya in atau idza yang memiliki arti yang sama, yaitu "jika".

Kekhususan penggunaan lau adalah isyarat sebuah pengandaian yang tidak akan pernah mungkin terjadi atau terwujud.

Kata idza mengisyaratkan makna kepastian akan terjadinya sesuatu, sedangkan kata in mengisyaratkan kemungkinan kedua-duanya, bisa terjadi atau bisa

tidak terjadi. 

Ayat tersebut juga dipertegas oleh potongan ayat berikutnya yang menggunakan kalimat bertanya (shigat istifhamiyyah):

Apakah kalian (hendak) memaksa manusia supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman semuanya?

 

Dalam ilmu Balaghah, salahsatu cabang ilmu bahasa Arab, shigat istifhamiyyah tersebut menegaskan ketidakmungkinannya hal yang dipertanyakan.

Menyampaikan misi dakwah dan petunjuk adalah sebuah keniscayaan setiap orang, apalagi tokoh agama, namun untuk menerima atau menolak petunjuk itu hak progregatif Allah Swt, sebagaimana dinyatakan dalam Al-Qur'an:

"Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.

(Q.S. al-Qashash/28:56).

 

Banyak ayat lain yang mendukung bahwa perbedaan dan pluralitas di dalam masyarakat sudah merupakan ketentuan Allah Swt, seperti yang dinyatakan di dalam ayat:

Di dalam ayat lain Allah Swt lebih tegas menekankan bahwa perbedaan setiap umat sudah dirancang sedemikian rupa:

"Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang.

Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan". (Q.S. al-Maidah/5:48).

 

Dalam ayat lain Allah Swt memberikan suatu pernyataan indah:

"Janganlah kamu (bersama-sama) masuk dari satu pintu gerbang, dan masuklah dari pintu-pintu gerbang

yang berlain-lainan".

(Q.S. Yusuf/12:67).

Kita tidak perlu mempertanyakan mengapa Allah Swt menciptakan hambanya tidak seragam.

 

Dalam perspektif tasawuf dijelaskan bahwa semuanya itu sesungguhnya sebagai

 perwujudan nama-nama-Nya (al-asma' al-husna') yang bermacam-macam.

Setiap nama-nama tersebut menuntut pengejahwentahan di dalam alam nyata.

 

Orang-orang yang menolak pluralitas dan kemajemukan sosial lalu mengindoktrinasikan keniscayaan sebuah negeri universal di bawah satu kepemimpinan, bukan saja terlalu sulit diwujudkan tetapi Islam sendiri mengenyampingkan gagasan itu dengan berdasar pada ayat-ayat tersebut di atas.

 

Bagi kita sebagai warga bangsa Indonesia yang ditakdirkan menjadi negara majemuk dan plural, harus dianggap sebagai sebuah rahmat Tuhan Yang Maha Kuasa.

Kenyataan ini bisa menjadi asset bangsa, meskipun juga bisa menjadi sunber ancaman jika salah dalam mengelolanya.

Keberadaan multi etnik dan multi agama di Indonesia sejauh ini masih tampak sebagai kekayaan positif.

Tugas genersi bangsa ini berikutnya bagaimana menjadikan kemajemukan etnik dan agama sebagai sebuah kekayaan bangsa.

 

Allahu a'lam.

 

Sumber :

Detik News.

17 Oktober 2020  07.00 wib.

Kompascom 20 Agustus  2020  14.35

Suara Com 2020/08

Tematik Ham/Piagam Madinah 13/09/2015.

 

EMTE - 05-08-2021.