QURBAN DAN GIZI

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA  UMMAH

 

KURBAN

PERBAIKAN GIZI

PERTUMBUHAN EKONOMI

 

"Tidak sepatutnya spirit berkurban hanya berhenti pada prosesi saat penyembelihan hewan di Hari Iedhul Adha, tetapi harus berlanjut sepanjang waktu, karena pada "Kurban" mewujudkan iman dan takwa paling nyata dari seorang hamba "

Oleh : Moch. Tohir

Meneladani para Nabi.

"Kurban"  merupakan syariat qadimah yang telah ada semenjak zaman Nabi Ibrahim ‘alaihissalam.

       Bahkan sebagian ulama juga mengatakan bahwasannya "Kurban " ada semenjak zaman Nabi Adam as. yang masyhur dengan kisah Qabil dan Habil. "Kurban " merupakan momen sukacita yang menjadi salah satu dari rangkaian Idul Adha. Dalam hari raya tersebut kita diperintahkan oleh Allah SWT untuk bersyukur terhadap segala nikmat yang telah Allah SWT berikan kepada kita. Allah SWT berfirman,

فَاذْكُرُونِي أَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوا لِي وَلَا تَكْفُرُون

Artinya:

“Maka ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat pula kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari nikmat-Ku.”

(QS al-Baqarah : 152)

      Maka dari itu umat Islam diperintahkan untuk menyembelih kurban sebagai manifestasi dan simbol rasa syukur terhadap Allah SWT. Setelah menyembelih kurban kita disunnahkan untuk memakannya dan membagikannya kepada fakir miskin dan orang yang membutuhkan. Karenanya kurban mencerminkan makanan yang baik dan diridhai Allah SWT. Allah SWT berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُلُوا مِنْ طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُوا لِلَّهِ إِنْ كُنْتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, makanlah yang baik-baik dari rezeki yang telah Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.”

(QS. Al-baqarah :172)

Bersyukur dengan cara ini patut dilaksanakan, karena orang yang bersyukur terhadap nikmat Allah SWT akan mendapat tambahan nikmat dan ampunan dari Allah SWT. Seperti yang difirmankan Allah SWT,

مَا يَفْعَلُ اللَّهُ بِعَذَابِكُمْ إِنْ شَكَرْتُمْ وَآمَنْتُمْ وَكَانَ اللَّهُ شَاكِرًا عَلِيمًا

Artinya:

“Mengapa Allah akan menyiksamu, jika kamu bersyukur dan beriman?. Dan Allah adalah Maha Mensyukuri lagi Maha Mengetahui”.

(QS. An-Nisa : 147)

( Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Pengembangan HPT (II) : Tuntunan Idain dan Qurban, t.t., hlm. 20.)

++++

"Kurban"  masa kini.

   Banyak dijumpai orang dari desa, setelah sukses merantau dikota, pada saat berkurban melaksanakan pembelian , pemotongan hewan  dan membagikan dagingnya juga dikota. Tidak jarang dagingnya dibagikan kepada orang kota yang sebetulnya sudah mampu membeli daging di pasar setiap  hari  .

       Alangkah baiknya orang -orang kota tersebut mengingat kampung halaman  , mengingat kampung -kampung lain yang penduduknya miskin, kurang gizi dan perekonomiannya sangat jauh tertinggal. Mereka cukup mengirim uang ke kampung itu, lalu dibelikan hewan dikampung itu atas nama mereka dan dipotong untuk dibagikan kepada penduduk kampung itu juga.

      Selain ibadah "Kurban" jadi lebih tepat sasaran, para peternak hewan bisa menikmati harga  jual yang lebih baik karena tidak melewati para pengepul dan tentunya hasil penjualannya bisa untuk menumbuhkan perekonomian  kampung tsb.

      Dikotapun tidak perlu ada semacam "pasar hewan dadakan " yang sering kurang bisa menjaga kebersihan lingkungan. Dikota pun tidak  repot mencari tempat pemotongan hewan, yang adakalanya sudah semakin susah, karena tak ada lahan tersedia. Belum lagi pada waktu pembagian daging tidak jarang menimbulkan kerumunan, yang bisa menularkan virus COVID-19.

+++++

Pelajaran dari 'Kurban".

    Tentu ada banyak pelajaran dari syariat "Kurban" yang pertama kali dilakukan oleh Nabi Ibrahim itu. Secara pribadi, "Kurban" bagi seorang Muslim adalah bentuk ketaatan kepada Allah SWT untuk benar-benar mendapat rida-Nya. "Kurban" adalah wujud pengabdian seorang hamba kepada Allah untuk turut serta memberikan kebahagiaan kepada saudara seiman lain yang hidup susah dan miskin.”

     Secara sosial, syariat "Kurban " menuntun umat Islam untuk tidak terjebak pada individualisme- materialisme yang berakibat pada keroposnya solidaritas dan soliditas internal umat Islam. Dengan syariat "Kurban" diharapkan semua umat Islam secara berjamaah tetap komitmen dan konsisten pada keimanan kepada Allah SWT.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai”

(QS [3]: 103).

      Berpegang kepada tali Allah berarti semua umat Islam harus saling menjaga, memelihara, dan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah secara bahu-membahu dengan cara saling asah-asih-asuh. "Kurban " adalah bentuk paling nyata dari keimanan seorang Muslim untuk mengajak saudara yang lain turut bahagia dalam menapaki hidup dengan berpegang teguh kepada tali Allah, sehingga tercipta ukhuwah Islamiyah yang kuat dan kokoh. Karena Allah tidak menyukai umat Islam hidup tercerai berai, sehingga mudah dikalahkan oleh umat lainnya.

“Sesungguhnya Allah meridai kalian dalam tiga perkara dan membenci kalian dalam tiga perkara. Dia meridai kalian jika kalian beribadah kepada-Nya dan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, berpegang teguh pada tali Allah dan tidak bercerai-berai dan setia kepada orang yang telah diserahi urusan kalian oleh Allah (Pemimpin). Dan Allah membenci kalian dalam tiga perkara, yaitu banyak bicara (menyampaikan perkataan tanpa mengetahui kepastian dan kebenaran), banyak bertanya dan menghambur-hamburkan harta.”

(HR. Muslim).

      Jika kembali pada makna ayat yang memerintahkan umat Islam untuk berpegang teguh pada tali Allah yang, menurut Ibnu Katsir, berarti berpegang teguh kepada Alquran.

      Maka, tidak semestinya spirit "Kurban" hanya terhenti pada saat prosesi penyembelihan hewan  di Hari Raya Idul Adha, tetapi harus berlanjut sepanjang waktu. Karena pada "Kurban " mewujud iman dan takwa paling nyata dari seorang hamba. ( Republika online 29 Oktober 2012 11:25 wib)

Wallahu  Alam.