PRIBADI   MUSHLIH

KOLOM  HIKMAH

KHAIRA UMMAH

Ahklak  al Kharimah

PRIBADI   MUSHLIH

Oleh : Moch. Tohir

Assalamu'alaikum wr wb.

SAHABATKU  !

      Seseorang disebut memiliki kepribadian mushlih manakala ia shalih secara pribadi dan menshalihkan orang lain serta lingkungannya. Ada satu ciri yang identik pada diri seorang mushlih, yaitu  

" Ia senantiasa memperbaiki dirinya sebelum memperbaiki orang lain "

Ia senantiasa memiliki semangat bahwa :

" Yang ia sampaikan kepada orang lain, setiap nasihat yang ia berikan pada orang lain, mestilah sudah ia amalkan juga ".

Orang yang mushlih sangat menyadari akan firman Allah SWT :

"Wahai orang-orang yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?  Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan."  (QS. ash-Shaff [61]: 2-3)

       Tidak sedikit orang yang gemar menasihati orang lain, harus berbuat ini, harus berbuat itu, melaksanakan ibadah ini dan ibadah itu, tetapi dirinya sendiri tidak melakukannya  ! Ia menasihati orang lain hanya agar terlihat lebih memahami dibanding orang yang ia nasihati.Lebih parah lagi kalau dikotori dengan penyakit riya dan sumah. Allah SWT merendahkan perilaku demikian, seperti yang pernah dilakukan kaum Bani Israil.

Allah berfirman :

"Mengapa kamu suruh orang lain (mengerjakan) kebaikan, sedang kamu melupakan diri (kewajiban)mu sendiri, padahal kamu membaca al-kitab (Taurat)? Maka tidaklah kamu berpikir?"

(QS. Al-Baqarah [2]: 44)

SAHABATKU  !

Bagi siapa saja yang merasa belum layak dimasukkan kedalam golongan muslim berkepribadian MUSHLIH ..... dan ingin mendapat predikat tsb......

     Sebagai langkah awal, mari kita awali dengan ikhtiar yang serius dalam memperbaiki diri. Perbaiki niat, ucapan dan perbuatan kita.  Memperbaiki diri bisa diawali dengan menafakuri dua kalimat syahadat yang sering kita ucapkan.  Karena inilah tonggak awal ke- Islam-an kita  !

SAHABATKU   !

        Kalau ada orang muslim yang belum baik akhlaknya, masih gemar berbuat dosa, kata-katanya masih banyak yang kotor, dusta dan menyakiti orang lain, perbuatannya masih sering menzalimi orang lain, maka :

" Kemungkinan besar belum benar syahadatnya" !

Ia baru menyatakan dua kalimat syahadat sebatas ucapan saja. Belum meresap ke dalam hati  ! Belum kokoh menjadi keyakinan  !

Asyhadu anlaa ilaaha illallah

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.

Kalimat ini baru sebatas lisannya. Sementara di dalam hatinya masih ada Tuhan-Tuhan lain yang selalu :

"  Ia ingat, ia sebut, ia kejar, ia utamakan " .

   Yaitu harta, pangkat, jabatan, popularitas, pasangan, dan urusan duniawi lainnya. Orang yang suka menyombongkan harta, pangkat, ilmu , jabatan atau apa saja yang dimilikinya tidak ubahnya "  men-Tuhan-kan dirinya  ! .  Suatu perbuatan  yang  dilarang dan tidak disukai oleh  Allah.

SAHABATKU  !

Wa asyhadu anna Muhammadan rasuulullah.

Dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

      Kalimat ini pun masih sebatas lisan. Sementara dalam hatinya ia mengidolakan orang lain. Pada sikapnya sehari-hari ia tidak meneladani perilaku Rasulullah saw. Sunnah seakan jauh dari kesehariannya.

Padahal Allah berfirman :

"Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah."

(QS. al-Ahzab [33]: 21).

SAHABATKU   !

     Selanjutnya  mari kita perbaiki ibadah - ibadah kita yang lainnya. Beribadah jangan  hanya  sekedar menggugurkan kewajiban. Sholat jangan hanya dimulai dengan takbir dan diakhiri dengan salam. Puasa jangan hanya dimulai dengan makan sahur dan diakhiri dengan berbuka. Bayar zakat jangan hanya sekedar membayar zakat fitrah setahun sekali. Berhaji jangan  hanya  sekedar wuquf di padang Arafah.

Mengapa  ?

         Hakekat ibadah adalah penyebar luasan kasih sayang Illahi di dunia agar kita bisa  berjumpa  dengan Allah dalam rahmatNya kelak.

Rasulullah  bersabda :

      Tidak akan diterima amal ibadah seseorang apakah itu sholatnya, puasanya, zakatnya sepanjang dalam pengalamannya  ,  tidak disertai dengan perbuatan baik dengan orang lain.

SAHABATKU !

         Dalam setiap bentuk  ibadah ritual  selalu mempunyai dua arah yaitu arah vertikal dan arah horizontal . Arah vertikal hanya merupakan perlambang atau wujud ketaqwaan kita kepada Allah SWT, bahwa  segala bentuk ibadah hanya demi Allah semata, karena sebetulnya  Allah tidak memerlukan apapun.. dari siapapun . Oleh karena itu, buah peribadatan itu sendiri harus bisa dirasakan  oleh pihak  yang  memerlukan yaitu manusia dan  kemanusiaannya. Inilah yang disebut sebagai arah horizontal.  ( Qs Al Isra 17: 15 )

Dan tujuan akhir dari  segala  ibadah ritual adalah terbentuknya  ahklaq  yang  mulia  ,  baik ahklaq  terhadap  Allah maupun ahklaq terhadap sesama  mahluk  , seperti apa yang disabdakan  oleh  Rasulullah :

" Aku  diutus  hanya  untuk  menyembuhkan  ahklaq  yang  mulia ".

SAHABATKU  !

         Selanjutnya, mari kita tunaikan kewajiban  yang lain yaitu untuk saling mengingatkan diantara kita, diantara sahabat - sahabat kita. Ada orang yang berkata, jangan dulu memperbaiki orang lain sebelum diri sendiri baik. Perkataan itu  benar..... Tetapi... Ada  juga orang yang berkata.....tidak ada manusia yang sempurna. Sekuat apa pun seseorang memperbaiki dirinya, sebagai manusia pasti ada kalanya iman naik dan ada kalanya turun.

Dan itu  semua juga benar  !

SAHABATKU  !

            Kalau kita menunggu sampai diri kita sempurna, maka dakwah tidak akan berjalan. Oleh karena  itu  ! Sikap  yang realistis walaupun bukan yang terbaik adalah :

"  Mari kita serius memperbaiki diri sembari mengajak orang lain pada kebaikan ".

Semoga kita semua berhasil menjadi Muslim yang

berpribadi Mushlih.

Amin.

 

Sumber :

Ahmad Tohari

Mas Mantri Menjenguk Tuhan

Risalah Gusti

Surabaya Maret 1997.