Apa arti Mazhab?

Kolom Hikmah

Khaira  Ummah.

Haruskah karena perbedaan Mazhab kita bertengkar?.

Disarikan oleh : Moch. Tohir

Mazhab adalah Pendapat Imam tentang Hukum Agama.

     Tidak dipungkiri bahwa  perbedaan Mazhab ini masih sering menjadi pemicu terjadinya pertengkaran bahkan perpecahan antar umat Islam. Mengapa, karena  perbedaan ini kadangkala diikuti oleh perilaku  "kurang dewasa "  yaitu saling salah menyalahkan, menganggap Mazhab yang diikutinya paling benar, sementara yang lain salah   !

      Padahal Rasulullah SAW mengajarkan dalam haditsnya yang berbunyi “ikhtilafu ummati rahmah,” yang artinya perbedaan umatku merupakan sebuah rahmat. Oleh karena itu , sudah semestinya perbedaan / rahmat itu dimaknai dengan saling melengkapi, membangun dan memperbaiki, bukan menjadi perpecahan.

       HMH al Hamid al Husaini dalam bukunya " Meluruskan Persoalan -persoalan yang banyak diperselisihkan di kalangan umat terbitan Pustaka Hidayah Cetakan ke 1 Muharram 1417/Juni 1996. hal. 19 alinea ke 2 menyebutkan :

" Sebagaimana telah kami katakan, dalam kehidupan ini perbedaan adalah wajar, tetapi itu bukan untuk dipertentangkan dan dipertajam, melainkan harus diusahakan pemecahannya dan penyelesaian dengan cara sebaik mungkin. “

         Masalah yang menjadi titik perbedaan hendaknya dibatasi pembicaraannya hanya dikalangan alim ulama untuk dimusyawarahkan... dicarikan penyelesaiannya dengan jujur kepada Allah... Jujur kepada RasulNya..jujur  kepada umat seagama dan jujur kepada diri sendiri. Itu memang tidak mudah, sebab walaupun masing masing berpedoman pada al Qur'an dan Sunnah Rasul yang sama, tetapi dalam penafsirannya semua pihak mempunyai pendapat sendiri - sendiri ".

+++++

       Oleh karena itu, andaikata perbedaan Mazhab ini didasarkan adanya perbedaan tafsir , maka suka atau tidak suka umat Islam harus siap hidup bersama dalam perbedaan , sampai hari kiamat  !.

Mengapa ? Karena Tafsir itu tidak tunggal dan tidak statis  , seperti dua penjelasan dibawah ini :

1). " Tafsir al Qur'an adalah penjelasan tentang maksud firman-firman Allah sesuai dengan kemampuan manusia.”

Kemampuan manusia bertingkat-tingkat, sehingga  apa yang dicerna oleh seorang mufasir juga bertingkat-tingkat pula. Demikian pula kecenderungan manusia berbeda-beda , sehingga apa yang dihidangkan dari pesan-pesan Illahi dapat berbeda-beda pula " ( Quraish Shihab - Pengantar Tafsir al Misbah - hal. xvii.) 

2). " Tafsir al Qur'an itu dynamis, berkembang mengikuti irama perkembangan masa dan memenuhi kebutuhan manusia dalam satu generasi.”

Tiap-tiap  masa dan generasi menghasilkan tafsir-tafsir al Qur'an yang sesuai dengan kebutuhan dan keperluan generasi itu, dengan tidak menyimpang  dari ketentuan -ketentuan agama Islam itu sendiri " . (Al Qur'an dan Terjemahannya -  Khadim al Haramain asy Syahifain Fahd ibn Abd al Aziz al Saud , hal. 24 alinea 5.).

Kesimpulannya adalah, perbedaan Mazhab yang didasari oleh perbedaan Tafsir al Qur'an adalah  keniscayaan .

+++++

Pertanyaannya kemudian adalah, haruskah kita masih mau bertengkar hanya karena perbedaan Mazhab ini?

Marilah kita contoh Buya Hamka dan KH Idham  Chalid  dalam menyikapi perbedaan  itu .Buya Hamka adalah Ulama Muhammadiyah , dimana Muhammadiyah tidak Bermazhab dan tidak mengamalkan Qunut.

Dikutip dari REPUBLIKA . CO. ID

Kamis , 22 Jul 2021, 20:31 WIB

Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah menjelaskan mengapa tidak bermazhab dan tiak Qunut sebagai berikut :

“ Muhammadiyah memang tidak terikat kepada salah satu di antara madzhab-madzhab tertentu, akan tetapi juga bukan berarti Muhammadiyah anti dengan madzhab"

Apa yang dilakukan Muhammadiyah -melaksanakan agama bersumber pada al-Qur’an dan as-Sunnah – ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw:

عَنْ مَالِكٍ بْنِ أَنَسٍ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: تَرَكْتُ فِيكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابِ اللهِ وَسُنَّةِ رَسُولِهِ. [رواه مالك في الموطأ]

Artinya: “Diriwayatkan dari Anas bin Malik berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda:

" Aku telah meninggalkan kepadamu sekalian dua perkara, tidak akan tersesat kamu selama berpegang teguh dengan keduanya yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya”. [Diriwayatkan oleh Malik dalam kitab Muwattha’].

Dan juga apa yang dikatakan oleh salah satu Imam madzhab, yaitu Imam Ahmad Bin Hanbal yang berbunyi :

لاَ تَقَلَّدْنِي وَلاَ تَقَلَّدْ مَالِكًا وَلاَ الشَّافِعِي وَلاَ اْلأَوْزَاعِي وَلاَ الثَّوْرِي وَخُذْ مِنْ حَيْثُ أَخَذُوا .[ابن القيم في إعلام الموقعين]

Artinya: “Janganlah engkau taqlid kepadaku, demikian juga kepada Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Auza’i dan Imam ats-Tsauri.

Namun ambillah (ikutilah) darimana mereka (para Imam itu) mengambil (yaitu al-Quran dan as-Sunnah)”.

         Singkatnya, tidak mengikuti pada madzhab-madzhab tertentu bukan berarti tidak menghormati pendapat para imam fuqaha, namun hal ini justru langkah untuk menghormati mereka karena mengikuti metode dan jalan hidup mereka serta melaksanakan pesan-pesan mereka agar tidak bertaqlid.

Adapun qunut Hukumnya diperselisihkan ulama, di samping doa tersebut juga sebagai doa qunut witir berdasarkan hadis:

وَعَنْ الْحَسَنِ بْنِ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ قَالَ: عَلَّمَنِي رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَلِمَاتٍ أَقُولُهُنَّ فِي قُنُوتِ الْوِتْرِ: اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ فَإِنَّك تَقْضِي وَلاَ يُقْضَى عَلَيْكَ، إنَّهُ لاَ يَذِلُّ مِنْ وَالَيْتَ، تَبَارَكْتَ رَبَّنَا وَتَعَالَيْتَ. [رَوَاهُ الْخَمْسَة]

Artinya: “Diriwayatkan dari Hasan bin Ali, ia berkata:

Rasulullah saw telah mengajarkan kepadaku tentang kalimat-kalimat yang aku baca ketika melakukan qunut witir:

Allahumma-hdini fiman hadait, wa’afini fiman ‘afait, watawallani fiman tawallait wabarikli fima a’thaita wa qini syarra ma qadzaita fainnaka taqdzi wala yuqdza ‘alaika innahu la yadzillu man wallaita tabarakta rabbana wa ta’alaita”. (HR. lima ahli hadis)

         Majelis Tarjih memilih untuk tidak melakukan doa qunut karena melihat hadis-hadis tentang qunut Subuh dinilai lemah dan banyak diperselisihkan oleh para ulama. Di samping itu terdapat hadist yang menguatkan tidak adanya qunut Subuh.

Dalam riwayat beberapa imam disebutkan sebagai berikut:

مَا رَوَاهُ الْخَطِيبُ مِنْ طَرِيقِ قَيْسِ بْنِ الرَّبِيعِ عَنْ عَاصِمِ بْنِ سُلَيْمَانَ، قُلْنَا لِأَنَسٍ: إنَّ قَوْمًا يَزْعُمُونَ أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَمْ يَزَلْ يَقْنُتُ فِي الْفَجْرِ فَقَالَ: كَذَبُوا إنَّمَا قَنَتَ شَهْرًا وَاحِدًا يَدْعُو عَلَى حَيٍّ مِنْ أَحْيَاءِ الْمُشْرِكِينَ.

Artinya: “Khatib meriwayatkan dari jalan Qais bin Rabi’ dari Ashim bin Sulaiman, kami berkata kepada Anas: Sesungguhnya suatu kaum menganggap Nabi saw itu tidak putus-putus berqunut di (shalat) subuh, lalu Anas berkata: Mereka telah berdusta, karena beliau tidak qunut melainkan satu bulan, yang mendoakan kecelakaan satu kabilah dari kabilah-kabilah kaum musyrikin.” [HR. al-Khatib]

          Begitu pula doa qunut witir yang dibaca sesudah i’tidal sebelum sujud pada rakaat terakhir di malam shalat witir baik dalam bulan Ramadan maupun dipertengahannya, tidak disyariatkan. Karena itu tidak perlu untuk diamalkan.

          Dalil-dalil yang menyatakan adanya doa qunut seperti riwayat Abu Dawud, at-Tirmidzi, riwayat an-Nasa’i, riwayat Ahmad dan riwayat Ibnu Majah dipandang kurang kuat karena ada perawi-perawi yang dipandang dhaif. Adapun yang ada tuntutannya itu ialah qunut NAZILAH yakni dilakukan setiap shalat selama satu bulan di kala kaum muslimin menderita kesusahan dan tidak hanya dikhususkan untuk shalat tertentu saja.

Dan ini berdasarkan hadis Nabi saw bahwa beliau pernah melakukannya selama sebulan kemudian meninggalkannya setelah turun peringatan Allah SWT.

قَالَ اْلبُخَارِى قَالَ مُحَمَّدُ بْنُ عَجْلاَنَ عَنْ نَافِعٍ  عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ : كَانَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَدْعُو عَلَى رِجَالٍ مِنَ اْلمُشْرِكِينَ يُسَمِّيهِمْ بِأَسْمَائِهِمْ حَتَّى أَنْزَلَ اللهُ تَعَالَى (لَيْسَ لَكَ مِنَ اْلأَمْرِ شَيْئٌ) الأ ية – (ال عمران)

Artinya: “Berkata al-Bukhari: Berkata Muhammad bin Ajlan dari Nafi’, dari Umar, katanya: Pernah Rasulullah saw mengutuk orang-orang musyrik dengan menyebut nama-nama mereka sampai Allah menurunkan ayat 127 surah Ali Imran: Laisa laka minal-amri syaiun (tidak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu).”

Pemahaman yang dapat diambil dari riwayat tersebut ialah:

1. Bahwa QUNUT NAZILAH tidak lagi boleh diamalkan.

2. Boleh dikerjakan dengan tidak menggunakan kata-kata kutukan dan permohonan pembalasan terhadap perorangan.(Rubrik Tanya Jawab Agama Diasuh Divisi Fatwa Majelis Tarjih dan Tajdid Pimpinan Pusat Muhammadiyah)

Sumber: Majalah SM No 17 Tahun 2008.

+++++

Sedangkan KH Idham Chalid adalah Ulama NU.

Nahdlatul Ulama atau NU bermazhab dan mengamalkan Qunut.

Dikutip dari Republika. Co. Id.

Kamis , 02 Jul 2020, 21:55 WIB.

KH Taufik Damas Lc menjelaskan bahwa beragama harus bermazhab.

Adapun alasan adalah sebagai berikut :

Mazhab dalam Islam dibangun berdasarkan akumulasi pemikiran dari generasi ke generasi.

         Dimulai dari guru utamanya, yaitu Nabi Muhammad SAW, para sahabat, tabiin, tabiit-tabiin, ulama mazhab dan seterusnya, sampai generasi sekarang ini. Para ulama sepakat akan pentingnya bermazhab dalam beragama. Sebagian mereka bahkan menganggap beragama tanpa bermazhab adalah kemungkaran.  

Dalam kitab Aqdul Jayyid fi Ahkam al-Ijtihad wa at-Taqlid, hal 14, Syah Waliyullah ad-Dahlawi al-Hanafi (w 1176 H.) menyatakan:

“Ketahuilah bahwa bermazhab (pada salah satu dari empat mazhab) adalah kebaikan yang besar. Meninggalkan mazhab adalah kerusakan (mafsadah) yang fatal.”

Pernyataannya ini didasari beberapa alasan:

1. Semua ulama sepakat bahwa  untuk mengetahui syariat harus berpegang teguh pada pendapat generasi salaf (Nabi dan sahabat).

Tabiin berpegang teguh pada para sahabat.

Tabiit-tabiin berpegang teguh pada para tabiin.

Demikian seterusnya: setiap generasi (ulama) berpegang teguh pada generasi sebelumnya.

Ini masuk akal, karena Syariat tidak bisa diketahui kecuali dengan jalan menukil (naql) dan berpikir menggali hukum (istinbath).

Tradisi menukil (naql) tidak bisa dilakukan kecuali satu generasi (ulama) menukil dari generasi sebelumnya (ittishol).

       Dalam berpikir mencari keputusan hukum (istinbath) tidak bisa mengabaikan mazhab-mazhab yang sudah ada sebelumya. Ilmu-ilmu seperti nahwu, sharf, dan lain-lain tidak akan bisa dipahami jika tidak memahaminya melalui ahlinya.  

2. Rasulullah SAW bersabda:

عليك بالسواد الأعظم

“Ikutilah golongan yang paling besar (as-sawad al-a’zham).”

     Setelah saya mempelajari berbagai mazhab yang benar, saya menemukan bahwa empat mazhab adalah golongan yang paling besar. Mengikuti empat madhzab berarti mengikut golongan paling besar.  

3. Ibnu Mas’ud juga berkata, “Jika kamu ingin mengikuti, ikutilah orang (ulama) terdahulu (yang memegang teguh amanah ilmu pengetahuan).”

(Wakil Katib Syuriah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DKI Jakarta).

Sementara tentang Qunut, Ulama NU berpendapat sebagai berikut.

Dikutip dari Bisnis Com. 05 Mei  13:12 WIB .

Lukman Nur Hakim menjelaskan  sebagai berikut.

        Qunut merupakan amalan yang disunnahkan  dalam shalat, terutama shalat  subuh dan shalat witir pada akhir bulan Ramadhan. Menurut Mazhab Syafi'i, qunut termasuk bagian dari sunah ab'ad. Nabi Muhammad SAW  melakukan qunut dalam berbagai keadaan dan cara. Pernah Nabi ber qunut  pada setiap lima waktu yaitu pada saat ada nazilah atau musibah. Pernah pula Nabi qunut mutlak yaitu qunut tanpa sebab khusus. Adapun menurut Mazhab Hanafi, dalam kitab Al Adzkar, jika qunut shalat subuh disunahkan berdasarkan hadis sahih dari Anas, bahwa Rasulullah SAW selalu qunut sampai beliau wafat. Menurut Imam Nawawi, qunut subuh adalah shalat sunat Muakkadah, meninggalkannya tidak meningkatkan shalat, tetapi lebih disarankan untuk sujud sahwi baik ketika ditinggalkan secara sengaja atau tidak sengaja.

+++++

Dari sini tampak jelas  sekali kedua pendapat itu saling bertentangan. Tetapi lihat , apa yang dicontohkan oleh kedua tokoh kedua Ormas tsb.

Dikutip dari Detik. News.

Imunitas Para 'Alim (Kisah dua Uulul Albaab)

Oleh : Abdurachman.

Idham Chalid ( NU ) berkata :

" Saya tidak mau memaksa  orang yang tidak berqunut  untuk ikut berqunut "

Dan Hamka ( Muhammaddiyah) berkata :

" Saya tidak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak  berqunut " .

         Perkataan tersebut diucapkan ketika beliau berdua dalam satu kapal, menuju Mekkah al-Mukarramah untuk melaksanakan ibadah haji. Pada saat shubuh datang, seluruh jemaah baik Nadliyin mau pun Muhammadiyah sudah bersiap-siap menjadi makmum. Rupanya K.H. Idham Chalid yang dipersilakan maju untuk mengimami. Tiba setelah ruku' lalu i'tidal pada raat kedua, Idham Chalid yang biasanya membaca doa qunut sebelum sujud, pada saat itu beliau tidak membaca doa itu.

       Sampai akhir shalat tiba, Buya Hamka membuka percakapan, "Pak Kyai, mengapa Pak Kyai Idham Chalid tadi tidak membaca qunut?" Dengan tenang Kyai Idham Chalid menjawab,"Saya tidak membaca doa qunut karena yang menjadi makmum adalah Pak Hamka. Saya tidak mau memaksa orang yang tidak berqunut untuk ikut berqunut." Buya Hamka terdiam.

        Pada hari kedua giliran Buya Hamka mengimami shalat shubuh. Tepat setelah ruku' pada rakaat kedua, tiba-tiba Buya Hamka mengangkat kedua tangannya membaca doa qunut shubuh dengan fasih. Shalat shubuh selesai. Kali ini Kyai Idham Chalid giliran bertanya kepada Buya Hamka, "Mengapa Pak Hamka membaca doa qunut saat mengimami shalat shubuh tadi?" Buya Hamka pun menjawab dengan tenang, "Karena saya mengimami Pak Kyai Idham Chalid. Saya tidak mau memaksa orang yang berqunut untuk tidak berqunut," ujarnya merendah.

       Tampak di depan sekian pasang mata para jemaah shalat shubuh ketika itu, kedua tokoh besar ulama tersebut saling berpelukan tanda keakraban. Air mata para jemaah hampir menetes. Pemandangan yang sungguh mengharukan. Tampak kebesaran pribadi-pribadi agung, yang bukan memecah belah. Tetapi malah saling membuang ego masing-masing, bersatu dalam ukhuwah Islamiyah. Gambaran tingkat keilmuan para 'alim, yang membawa dampak persaudaraan sejati.Gambaran Uulul Albaab

     Para uulul albaab adalah orang-orang yang memiliki tingkat ketakwaan sangat tinggi. Mereka memiliki pengetahuan yang sangat jernih, bersih dari keraguan sehingga dengan mudah mampu menilai mana informasi hoax dan mana yang sahih. Mereka mampu memilah dengan cermat mana yang haq dan mana yang bathil, melalui bimbingan langsung dari Allah swt. (QS 2:282).

         Kalau demikian maka wajar, bila kita semua wajib berusaha menggapai kondisi uulul albaab. Mereka yang bisa dicontoh sebagai bagian dari para uulul albaab adalah K.H. Idham Chalid dan Buya Hamka.

Abdurachman

Guru Besar Fakulas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya.