Imam Husein Teladan Bagi Umat Manusia

“Sabar itu ada batasnya,” demikian perkataan yang sering kita dengar untuk menjustifikasi kemarahan atau sikap ketidaksabaran seseorang. Benarkah demikian?

Sebelum kita membahasnya, marilah kita sadari bersama bahwa seorang muslim dalam rentang  hidup dan kehidupannya akan selalu berpegang teguh pada Al Quran dan meyakini bahwa Kitab Suci inilah yang akan memberikan jalan keselamatan bagi kehidupan fana ini dan membawa dampak dahsyat bagi kehidupan di akhirat kelak.

Kehidupan yang tidak kekal di bumi ini akan mengalami proses panjang antara bahagia dan derita yang silih berganti. Kita akan berjalan dalam ketetapan takdir yang tanpa tawar-menawar. Tentu, ada kesempatan untuk ‘bernegosiasi’ dengan takdir, misalnya melalui berdoa. Namun doa pun terkadang terasa mudah mengucapkannya tapi amat sulit menanti jawabannya dengan kesabaran.

Seorang hamba yang masih pada level ‘awam’  biasanya jika derita datang sulit mencerna kata ‘sabar’. Saat musibah atau cobaan datang, ia seakan terpelanting ke jurang yang dalam, merasa sendirian, menderita, dan hanya berteman dengan air mata dan kerisauan.

Kata ‘sabar’ bisa kita temukan bertebaran dalam tadarus harian Al Quran. Namun ketika kata tersebut harus disematkan ke dalam aliran darah dan jasad saat kita terperangah mendapatkan mushibah, banyak sekali orang, termasuk saya, yang tergagap-gagap dan bahkan tak mampu memaknainya.